Hal yang menentukan kelulusan siswa. Dari dulu, setiap tahun terus ada kenaikan standar nilai, ada perubahan sistem pengajaran. Tapi nyatanya hasilnya makin lama makin ga bermutu. Asal lulus, ya syukur. Kalo ga, paling nangis trus nunggu Ujian remedial. Iya, kalo ada dibuat pemerintah. Kalo ga, ya.. Nunggu tahun depan. Kebayang dong ngulang setaon, buang-buang uang, buang-buang umur.
Tapi belakangan ini banyak kabar yang beredar, Katanya UAN seharusnya ga diadakan. Kenapa?
1. Mutu pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya merata.
(Mank iya…Baru nyadar? Ga usah “MUTU”nya, Bangunannya aja keropos, udah pada bau tanah sih kayunya. Banyak anggaran, tapi menguap ga jelas…Ckckckc..)
2. UAN melanggar hak anak.
(Auk dah napa. Kata para suatu lembaga di Jakarta sih kayak geTTo.. Ntah darimana dilihat. Tapi ga papa lah. Yang penting bisa memperkuat alasan untuk meniadakan UN, hahaha… )
3. Guru-guru yg ngajar blum tentu sama mutunya.
(Mungkin guru-gurunya pada berTITLE semua. TITLE kan ga menjamin. Who Knows TITLEnya dibeli, iyo tak??)
4. Daya tangkap siswa/i tidak sama.
(Ini yang pling tepat. Yang Diatas aja nyiptain manusia ga sama pikirannya. Kalo sama semua, mana ada manusia disebut “MAKHLUK SOSIAL”? Kalo semua guru, siapa yang jadi murid. Kalo semua dokter, siapa jadi pasien? Kalo semua *KORUPTOR*, siapa yang mau diporotin???)
5. Dapat mengganggu jiwa siswa/i apabila tidak lulus.
(Iyah… Ketidaklulusan buat mental siswa/i bias jadi “DOWN”. Oh Gosh, ntar ga hanya Caleg yang kalah yang masuk rsJ, tapi yang stress gara-gara UN bisa nginep disitu juga. Makin penuh thu Hotel, wakakaka…)
Jadi kesimpulannya, UAN/UN/EBTANAS itu ga perlu diadakan. Sebenarnya, ujian akhir itu seharusnya dilakukan sekolah masing-masing. Karena guru2 yg ngajar yg tau kemampuannya murid2nya.
[Anak Kota Pulang Kampung] Belakangan ini, Medan lagi dingin banget ya, berasa lagi di daerah Tapanuli Utara. Brrrr... Jadi keinget lagi dengan liburan akhir tahun lalu. Bentar, kayanya sedap nih nyeruput teh manis anget + nyelupin roti Regale.. Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa masih terbilang baru, diresmikan tanggal 14 Mei 2016. Akupun mengetahuinya dari beberapa teman yang udah pernah ke sana duluan. Jadi jiwa panjang kaki ku, keluar begitu saja. Rasa penasaran ku juga meningkat pesat. Intinya, ga mau ketinggalan sih, wkwkwk... Iya, aku kemarin ngotot sekali untuk mampir ke Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa, padahal dari segi pemetaan, bisa saja aku dan keluarga melewati jalan Tele dari Pulau Samosir untuk menuju Tarutung. Tapi, panjangnya kakiku ga bisa dilawan. Kami pun menurutinya. Hahaha.. Seperti biasa, karena kami sebelumnya nginap di Pulau Samosir, kami pun menyeberangi Danau Toba sekitar 1 jam lebih. Pemandangannya, bolak-bal...
Gue dulu agak pesimis dengan kekompakkan kelompok tutorial gue, mereka adalah kelompok B.1 ruang 3.13. Entahlah, gue ngerasa ada aja yang kurang di kelompok ini. Sedikit acuh tak acuh, mungkin. Kalau kelompok ini begini terus, sempat mikir pengen pindah ke kelompok lain (Tapi pasti tak mungkin), apalagi denger-denger dari senior, ketika nyusun skripsi, temen-temen tutorial kalian lah temen skripsi kalian. Emm, bukan merasa sok hebat atau gimana, tapi gue ngerasa Down To Earth aja. Skripsinya susah, mikirin temen satu doping (dosen pembimbing) lagi. Oke mending gue ngerayap didinding. Sebentar, aku perkenalkan satu per satu: Novia Giovani (211 210 002) Fransiska Sinaga (211 210 004) Mona Liany Sinaga (211 210 006) Iwan Petrus Tampubolon (211 210 008) Joab Abigail Sitompul (211 210 010) Meri Bidani Damanik (211 210 012) Gracia Medina Pinem (211 210 014) Ika Agustinawati Siahaan (211 210 016) Inrinogro (211 210 018) Agus Chandra Sembiring(211 210 020) Raskami Pe...
Hari pertama begitu menginjakkan kaki di Bali, aku ga kemana-mana. Hanya sekedar singgah ke Pusat Oleh-oleh Krisna dan mencari makan malam. Aku lebih memilih ngadem di kamar hotelku. Seperti di posting -an sebelumnya, aku menginap di Borough Capsule Hostel , Bali. Aku punya prinsip bahwa penginapan hanyalah tempat singgah, mandi dan tidur. Kecuali untuk momen spesial seperti bulan madu, penginapan menjadi hal krusial yang perlu dipilih-pilih. Maka, karena memang aku ingin punya suasana liburan yang baru, aku memilih Borough Capsule Hostel . Aku booking lewat aplikasi Traveloka . Awalnya cuman 2 malam. Kemudian setelah dipikir-pikir, aku memperpanjangnya sampai aku kembali dari Bali. Memang sih ada perubahan harga setiap harinya, tapi itu ga membuatmu lebih rugi dibandingkan dengan harga ketika booking langsung. Karena kalau booking langsung, biasanya lebih mahal. Ada beberapa jenis kamar, seperti mixed, only female, dan variant ...
Comments
Post a Comment