Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Fiction

Sesudah kamu, siapa lagi yang ku tunggu?

Ina, sebut saja begitu. Ia Benar-benar melepas apa yang tidak dapat memberi kepastian padanya. Betul kata sang Presiden Republik Jancukers, Sudjiwotedjo, " Wanita itu suka ice cream dan coklat, namun lebih suka kepastian."  Kalimat itu ga perlu penjelasan lebih jauh. Karena "kepastian"lah intinya. Dan apa yang dicari Ina, tak ditemukan pada diri Tono, entah bisa disebut pria atau lelaki, yang sudah bersama Ina selama kurang dari 1 tahun. Sebenarnya, tidak ada parameter, berapa lama seorang wanita menemukan kepastian dari seorang pria. Cuman, inilah Ina dan Tono. "Sudah ku tanya dari awal, kamu mencari pacar atau calon teman hidup?", kalimat Ina menjadi pembuka kunci pembicaraan tentang kepastian itu. "Kamu bilang teman hidup. Tapi tingkahmu sama sekali tak menunjukkan tujuanmu itu. Aku bingung. Beberapa kali ku ingatkan baik-baik, tapi rasanya, buatmu masih lebih bagus suara radio rusak-rusak dibandingkan masukanku terhadap masalah peke...

[Fiction] Mendung dan Sore

Lalu dia menyenderkan kepalanya dibahu pria yang ada di sampingnya. Perlahan matanya tertutup, tapi tidak tidur, Menarik nafas panjang. Udara sore itu, mendung dan mendinginkan suasana yang ada. "Bagaimana aku tadi ketika marah? Aku merasa jelek. Aku lupa untuk menahan mulutku, lupa memikirkan perasaanmu ketika aku luapkan semua." Pria itu diam, menatap ilalang dari kejauhan. "Maafkan aku. Aku takut kita begini, berbeda paham untuk waktu yang lama. Boleh aku melihat kamu tersenyum lagi saat kamu melihat aku?", dia mengangkat kepalanya dan mengarahkan kepala pria itu ke dia. Pria itu tidak berekspresi apa-apa. "Bisa kan kita membicarakannya baik-baik? Maaf, aku udah berperilaku seperti anak-anak. Tapi, temani aku untuk belajar lebih dewasa.." Tiba-tiba pria itu membelai rambut wanita itu, "Aku telah memiliki dan dimiliki olehmu. Aku wajib menerima senyum dan marahmu. Maaf aku terlambat mengerti kamu. Biarkan aku belajar menge...

[Fiction] 8 Tulip Putih

Kira-kira waktu itu jam 8 pagi, Hanna hendak pergi menjalankan aktifitasnya sehari-hari, visite pasien. Tapi, dia mendadak menemukan se- bucket  tulip putih di depan kamar kostnya, dibungkus dengan plastik transparan berwarna merah dan ikat pita putih berliris emas. Jadi nampak kontraslah warna tulip putih itu. Putih bersih. Dia celingak-celinguk melihat sekitar kama kostnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya bunyi burung sayup-sayup terdengar, menjadi  backsound  paginya yang bisa dibilang, heran. Didapatinya sebuah kartu kecil berwarna putih bernuansa vintage, ada gambar seorang anak perempuan bermain ayunan di tengah taman bunga, yang disekitarnya terdapat banyak kupu-kupu. "8 bunga tulip putih, kesukaanmu. Seperti angka 8, tidak terputus. Dan kamu lebih anggun dari tulip. Putih, ya itu kasih sayangmu. Aku, orang yang selalu membutuhkanmu Galih" Hanna tertegun, terharu dan terbata. Paginya indah sekali, cahaya matah...

Pria di Secarik Kertas

Seperti biasa, aku Ibadah sore dengan beberapa kawanku. Aku siap-siap, padahal jam sudah menunjukkan pukul empat kurang sepuluh menit, tapi aku masih santai mengeringkan rambutku dengan kipas. Aku jarang sekali memakai hairdryer untuk mengeringkan rambutku, karena bagiku panas dari hairdryer itu benar-benar mengeringkan rambut sampai ke akar-akarnya, akhirnya terlihat seperti ijuk serta mudah rontok dan ngembang, membuat mukaku jadi kelihatan bulat sekali. Duh, itu benar-benar failed dan bad hair day buatku. Aku memakai hairdryer kalo emang udah waktu yang mepet banget. Kalo masih ada waktu, mending mengeringkannya pakai kipas atau bela-belain tangan pegal ngipasin rambut pakai Koran. Hari ini, aku memilih memakai kebaya kutu baru yang baru sampai seminggu yang lalu dan dipadupadankan dengan rok span hitam, warna sejuta gaya. Ya, dengan dandanan yang ala kadarnya: pelembab Pond’s + Lipstick IShine nomor 9 “Rose Corail” yang berwarna lembut + Eyeline MyDarling (sungguh forma...