Skip to main content

Posts

Alam dan Pencipta

Hari ini, aku bertanya lagi kepada alam dan Sang Penciptanya. Aku memerlukan firasat, atau tanda tentang kamu. Tapi apa aku terlalu dini untuk bertanya tentang jodoh, atau lebih enak didengar, apakah kamu teman hidupku? Aku bukan tipe orang yang ribet tentang kriteria DIA. Tapi diriku cukup ribet untuk memutuskan apa harus terus atau tidak. Ya, mungkin logikaku sudah ditahap "stupor", sehingga sulit dipakai untuk masalah anak muda ini. Alam? Apakah salah aku mendapat jawaban darimu? Tanda-tandamu akankan pernah salah? Jika iya, beritahu aku. Jangan buat aku terlalu menumbuhkan sifat "ngarep"ku, sehngga apapun yang dilakukan DIA selalu baik buatku atau setidaknya kalaupun tidak membuat hatiku tenang dan senang, aku bisa mentolerirnya. Jangan, ku mohon jangan. Karena aku termasuk orang yang susah move on .  Aku pernah jatuh cinta, kemudian bener-bener jatuh ke jurang akhirnya. Aku butuh hampir 2 tahun untuk menghambarkan rasa itu padanya. Tidak mau! Itu salah...

Air Asin

Malam-malam lagi capek baca slide buat ujian besok. Eh iya ya, besok ujian. Enggak terasa ujian blok ke dua terakhir. Bentar lagi anak gadis ayah mama ini udah mau tamat. Tetep doain ya yah, ma. Awalnya iseng-iseng buka youtube. Aku bisa kalo buka youtube itu nyari tontonan yang lucu (soalnya otak udah tegang, soalnya belum ngantuk dan soalnya enggak punya tipi makanya ke ngeyoutube), kaya film dono kasino indro, charlie chaplin, mr.bean, stand up comedy, tetangga masa gitu atau parodi lagu dan film. Pokoknya apa aja deh yang bisa menggerakkan tulang maxilla dan mandibula ku. Gitu. Dan kali ini aku nyasar ke kata kunci "ahok". Sebelumnya, dulu-dulu waktu jaman kampanye, aku tuh sering nyari tau tentang pak jokowi. Iya, presiden kami yang sedang memperbesar kantung matanya demi bangkitnya negara Indonesia yang udah terlalu lama tertidur dalam "pemanfaatan" sekelilingnya. Iya, aku salah satu penggemar berat pak jokowi, dan kesederhanaannya. Nah malam ini nama ...

Balada Mahasiswa Semester Akhir

Sore-sore gini masih menatap buku referensi, membaca buku tebal tiba-tiba jadi kebiasaan. Iya, aku tekankan, untuk skripsi. Padahal Medan sore ini kompakan sama kasur ngegoda aku untuk nyender di sisinya. Sedih. Sudah bab berapa ini? Bab II. Padahal bab I belum di-acc. Zzzz.. Emang niatan kok kalo mau ngajuinnya sekalian aja ntar. Forensik, itulah departemen yang aku terima. Bagian yang agak jarang banget dikuliahkan. Pusing sih, tapi ya gitu mesti survive aja. ah sudahlah. tidur juga yang bener ini. Yaudahlah ya, ngantuk. Sore :)

Terpanggil jadi Dokter?

"Roma 8:28  Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.." Aku tadi enggak sengaja membaca ayat ini, dan aku merimang-rimanginya yang berpusat pada kata Terpanggil. Aku mahasiswi tingkat akhir di fakultas kedokteran. Awalnya gimana ya aku bilang, prodi kedokteran bukan satu-satunya prodi tujuanku. Dulu awal-awalnya aku pengen jadi penulis, pianis, arsitektur/desain interior, desain grafis, desain baju atau psikolog. Pokoknya hal yang membutuhkan kreatifitas, bukan hal yang baku. Dokter adalah cita-cita yang hilang-hilang timbul di otakku. Aku merasa tidak terpanggil dan merasa tidak mampu. Tapi Ya, Puji Tuhan aku terdaftar di salah satu perguruan tinggi swasta sebagai mahasiswa FKnya dan entahlah, aku ngerasa Tuhan menuntun aku. Serius yaa, stres, sedih, kecewa itu bener-bener ngetes aku banget. Pernah udah aktif di tutorial, ...

Enggak Semua Kita Bawa

*ngelap keringat dulu ya lek* Jadi gini, hari ini temenku cerita tentang hal yang membuatku menemukan kasus yang sepertinya ga mungkin, tapi ya ini fakta, dan mungkin banyak terjadi. Lagi-lagi kekeluargaan itu musnah gara-gara harta. Aku tekankan sekali lagi, Harta. Awalnya ini karena pembagian harta gono gini dari opungnya (kakek nenek). Keturunan opungnya hanya punya 1 anak laku-laki dan kebetulan, tidak memiliki keturunan. Nah, mungkin dibanyak adat istiadat, keberadaan anak laki-laki itu dipercaya untuk menerima wasiat. Ya, kalo ku bilang wasiatnya ini lumayan besar. Cuman karena dianggap ga punya anak, jadi adik beradiknya kurang setuju kalo wasiat itu sepenuhnya jatuh ke tangan dia. Iya, pamannya ini baik banget, dia pun berinisiatif untuk membagi harta itu. Tapi itulah sifat manusia sekarang, kurang puas. Udah dibagi pun, dia terus diporotin. Kesiaaaan ya kan? Dan yang lebih gilanya, saudara-saudaranya melakukan "guna-guna". Serius, aku dulu pun ga percaya gitu...

Senja

Ada senja yang ku nanti-nanti Ku selipkan dalam doa Bersama kamu, ombak ada senja yang hampir hilang Dibawa angin, terikut pasir Mungkin sembunyi di balik karang Ada senja yang hidup di sini Mengitariku menunggu mentari Menyelesaikan malam ini, mengikhlaskan hari ini Ada senja yang sering kuingat Ku tersenyum Salah satu alasan senyum tak beralasan Ada senja yang ku takuti Mencari purnama Sementara langit menunduk, walau hujan.

Yakin?

Sore ini aku sedang menatap laptop dan untuk ke sekian kalinya sedang jenuh-jenuhnya melihat slide untuk ujian blok Emergency And Traumatology . Blok ini berisi tentang penanggulangan pertama untuk sesuatu darurat. Entahlah kecelakaan, anak tenggelam, ibu-ibu hamil terus pendarahan tiba-tiba atau seseorang yang naik gunung terus hipotermia. Iya, aku sadar ini blok penting banget. Karena toh pada akhirnya nanti, aku akan diletakkan di ruangan IGD atau UGD. Mesti tau apa yang harus dilakukan. Ya, salah-salah bisa fatal. Apalagi berhubungan dengan hal kedaruratan.  Kadang mikir, kuat juga aku sampai pada titik ini, titik dimana aku bisa bertahan pada posisi yang kurasa tidak begitu nyaman dan tidak begitu yakin. NO ! Ini bukan mutlak pesimis. Sometimes, we can be proud for where we are be, though it's too hard to be understood.  Sebenarnya aku belum tahu. Apa aku masih merasa ini adalah tuntutan atau aku sudah menjalaninya dengan ikhlas. Kalau ikhlas sebenarnya bisa enggak s...