Skip to main content

Tentang Asmara Si Perantau Di Negeri Tirai Bambu


[Re-Write]
"Hai nop, sudah lama tidak dengar kabarmu. Kulihat kau sudah pakai jas putih yang menggemaskanku itu, berkacamata dan kadang-kadang pakai baju oprasi warna hijau, macam yang di film Korea.. Apa kau sudah jadi dokter sekarang?", aku terkejut dengan pesan via facebook dari teman (yang sesungguhnya kami tidak pernah bertemu), yang sudah lama tidak terdengar kabarnya.

"Hey Olivia, long time no see. Aku baik ini. Belum lah, aku masih koas. Apa kabarmu di negeri tirai bambu itu? Sudah adakah koko koko  yang nembak kau? Atau tetap bertahan pada prinsipmu yang klasik itu?", balasku penuh excited.

Olivia langsung membalasnya, karena kami kebetulan sedang sama-sama online.

"Ah, aku biasa-biasa saja.  Koko koko? Tidaklah, susah memulai disini.".

"Susah memulai?", aku merasa janggal.

"Memulai dengan berbeda keyakinan itu susah dan ngerasa ga mungkin..."

"....", Olivia masih mengetik balasannya. Aku tidak mau memotong pembicaraan sahabatku ini. Aku biarkan dia bercerita. Aku menunggu.

"Udah tau kedepannya akan susah bersatu dan bahkan mungkin tidak bersatu, kenapa harus dimulai?"

"...."

"Usia kita bukan karena ganteng atau mapan saja yang bisa dijadikan parameter mencari suami, keyakinan itu perlu diperhitungkan matang-matang. Usia kita bukan nyari pacar lagi, tapi nyari calon teman hidup...", Olivia menghentikan perkataannya.

Aku bingung mau balas apa. Aku teguk kopi pahit, hampir setengah gelas. Aku tidak suka kopi, tapi karena ada tugas deadline, aku bela-belain minum kopi.

"Jadi, ada yang ngedeketin kau, tapi karena beda agama, kau menghindarinya?", kataku sambil menahan pahitnya kopi itu. Lidahku mendadak ingin ku buang. 

"Kau kenapa belum tidur?"

"Masih ngerjain tugas, tapi aku hentikan dulu. Penat banget.."

"Oh, jam segini? Pasti kau sedang minum kopi pahit kan? Kebiasaanmu sih kalo belum kelar tugas.."

"Hhaha, you still remember ya. By the way, kau belum menjawab pertanyaanku tadi.."

"Hahaha, totally right. Aku malas memulai dengan perbedaan. Kalo keyakinannya udah beda, tujuannya juga biasanya beda. Ah, tidak ada waktulah untuk mikirin itu. Cukuplah pekerjaan aja yang membuat kita pusing. Sekarang cari saja yang satu keyakinan dan tujuan, bertanggungjawab, dan kau percaya dia punya prospek kehidupan yang baik. Daripada nanti ujung-ujungnya putus dan berhenti. Rasanya ga jauh beda sama rasa kopimu itu."

"....", Olivia masih melanjutkan omongannya. Sepertinya agak banyak pelajaran asmara dari wanita yang terakhir kali ku sadari wajahnya penuh jerawat tapi sekarang ku lihat profile picture nya sudah jauh lebih bersih dari jerawat. Aku mengabaikan tugasku yang tinggal sedikit lagi rampung.

"Mungkin diusia kita sekarang, 23 tahun ya kan? Kita maksimalkan aja dulu pencapaian kita. Nanti kalo udah jadi mamak-mamak, pasti prioritas juga udah berubah. Belum lagi tuntutan suami. Syukur-syukur lakik-nya demokratis, ngijinin kita kerja. Kalo ga? Sayang dong ilmu kita..."

"....", Olivia masih mengetik. Aku melihat dia sudah banyak berubah, apalagi cara berfikirnya. Mungkin benar, "kejarlah ilmu sampai ke negeri China" telah mengubah alur berfikir seorang Olivia yang dulu mudah baperan. Hahaha..

"Kemarin aku nemu kata-kata ini "Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan karena ketakutan sepi... Kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima - (Rectoverso). Apa ya? Aku tersadar dan itu yang mengubah cara pandangku terhadap pasangan hidup. Kalo kita takut sepi, kita akan gila ketika dia kembali ke haribaannya. Dan, aku tidak bisa menuntut terlalu banyak terhadap pasangan hidupku kelak, karena aku sadar akupun ada saja yang tidak sesuai dengan karakter atau harapan dari dirinya. Kalau mencari yang sempurna, kita pasti ga dapat", Olivia menjelaskan perubahannya itu. Aku kaget. Pikiranku terbuka. Hatiku seperti terhenyak.

Aku ingin membalas pemikirannya itu. Tapi tiba-tiba Olivia log off. Aku beberapa kali mengirimkan chat padanya, tapi tidak ada balasan. Aku sempat ragu, apa itu dia? Tapi, sudahlah. Nasehatnya memang nyesss banget. 

Olivia, Negeri Tirai Bambu mengubahmu dan mengubahku. Aku kembali menyelesaikan tugasku.

Comments

  1. Menerima...đŸ’™
    Jadi semakin berjalannya usia, banyak juga cara pandang yg berubah.. Aku pun begitu hehe.

    ReplyDelete
  2. Usia pertengahan 20 memang ga ada habisnya ngomongin pasangan. Jujur pandanganku juga berubah seiring aku dewasa nov. Aku lebih ngutamain yang bisa menerima buruk2nya aku dan juga yg bisa kuterima buruk2nya dgn udh dipertimbangkan secara matang. Namanya manusia pst ga ada yang sempurna..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh Mona, pada akhirnya yang bisa kita cintai baik buruknya dia..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[REVIEW] Tea Tree Oil - Jerawat Kempes

Eaaak!! Siapa deh yang musuhnya jerawat. Puji Tuhan, Alhamdullilah ya, aku bukan daily-rival -nya jerawat. Aku emang bukan turunan dari spesies orangtua yang berjerawat. Jadi saya bukan termasuk orang yang butuh perhatian khusus untuk menampis yang namanya jerawat.  Kehidupanku dan Jerawat Jerawat itu mah pada dasarnya salah satu proses fisiologisnya tubuh kok, salah satu penanda kamu itu udah akil balig. Kenapa? Brarti disitu ada proses adaptasi tubuh dengan adanya perubahan sistem hormonal kamu.  Jadi inget, dulu waktu masih SMP,  jidatku memang lahan subur buat tumbuh jerawat. Selain karena proses akil balig, wajahku emang jenis yang normal-oily , tapi ga berminyak2 kali kok. Justru seharusnya kamu bersyukur kalo punya kulit yang sedikit oily , karena kulit kamu akan tetap kenyal dan tidak mudah kering. Kebayang dong kalo kulit wajah kering, terus wajah sering berekspresi, sadar ga sadar akan cepat timbul kerutan-kerutan, semacam proses p...

[Review] Odessa Matte Lipstick Shade Odovan & Sunshine | My Favorite Daily Lipstick

Beberapa hari, sebelum ujian, aku sempat mengunjungi salah satu Mall baru di Medan. Mall- nya tidak begitu besar, cuman isinya lumayan lengkap kok. Namanya  Manhattan Times Square Medan  dengan ada semacam hotel atau apartemen yang nyatu dengan Mall-nya (kurang tahu), cuman  terakhir aku ke sana, masih dalam pembangunan. Ketika aku jalan-jalan disekitar tempat make up , aku menemukan satu produk baru, yang sama sekali belum pernah aku pake dan aku temui review nya. Ga usah pakai, denger namanya juga baru waktu itu. Padahal awalnya mau nyari lipstik merek lain. Cuman, pas aku nyoba, i feel love at the first sight. Sebelumnya, kayanya setelah aku perhatikan, tahun 2017 ini tahun warna nude merajai disegala aspek tema make up , mau itu make up kerja, make up hang out , atau bahkan make up nikahan. Memang warna nude itu punya kesan lembut dan berkelas. Dan untungnya, kulit wajahku emang berjodoh dengan warna ber- genre nude. HAZEEEEEEK!! Odessa Matt...

Pengakuan 1

Aku mengenal namamu pertama kali waktu aku mendengar dari teman-temanmu. Kalau ga salahku, itu tanggal 13 Februari 2009, sehari sebelum acara valentinenya OSIS. Kamu dibilang pinter buat puisi. Sampai-sampai aku datang ke kelas kamu, menagih puisi itu. Hahaha.. Di situ aku belum punya perasaan sama kamu. Karena aku melihat kamu terlalu gemulai. Taulah maksudku apa. Hehehe.. Ditambah lagi kamu meng-add Facebook ku dengan nama aneh, profile picture pun foto artis. Hemm.. Kamu membalas wall to wall ku pun, semacam begitulah. Masih biasa disitu perasaanku. Oh ya, aku mulai melihat kamu berbeda ya pas sehari sebelum acara valentine OSIS itu. Aku masih inget kali itu gimana kejadiannya. Kalo ga salahku, kamu pegang LKS PPKN. Kamu kena hukum sama guru karena ga ngerjain tugas. Sejak disitu aku memandangmu lain. Bukan benci, bukan suka. Entah apa itu namanya. Aku penasaran sama kamu. Aku curnhat salah satu temanku tentang perasaan itu. Hahaha..! Parahnya kamu keluarga dari g...