Skip to main content

5 Steps of Grief - 5 Tahapan Kesedihan


Salah satu teman sejawat, seorang blogger juga, memberikan pilihan dalam status facebook-nya "Denial. Anger. Bargaining. Depression. Acceptance. Which part are you in? Hahaha". Selain itu, salah seorang teman blogger sekaligus seorang editor, nge-post satu persatu kata itu dan memberikan caption di setiap postingan instagram-nya. Entah itu adalah satu hal yang sedang nge-trend atau cuman kebetulan. Selidik punya selidik, 5 kata itu ada dalam buku On Death and Dying - Elizabeth Kubler-Ross, 5 steps of grief, dalam bahasa Indonesia 5 Tahapan kesedihan / kehilangan. Ah, ini menarik!

Sejauh aku bernafas, kehilangan adalah fase terberat. Entah itu kehilangan baju kesayangan, kehilangan banyak file foto karena laptop rusak atau bahkan kehilangan pribadi-pribadi yang teramat disayang. Susah menggambarkan hancurnya perasaan ketika faktanya air mata, gerutu dan melemparkan kesalahan pada orang lain, nyatanya tidak akan mengembalikan apa yang hilang. 



1. Penyangkalan. "Tidak, ini bukan bagianku! Ga mungkin aku!", itu reaksi pertamaku. Namun, aku tidak lama berada di fase ini. Semesta segera menyadarkanku bahwa "Kamu memang seharusnya sedih. Tak perlu malu, menangislah. Berikan kesempatan air mata menjadi obat pelega. Tidak ada air mata yang akan mengindahkan dirimu, jika kau tak berani menangis". Aku melangkahi fase ini. Aku lega, tapi belum beranjak.


2. Marah. Sedikit banyak aku menyalahkan diriku dan tidak jarang aku menyalahkan Semesta, "Untuk apa bertemu, toh juga dipisahkan? Perjumpaan yang indah, ga seharusnya begini. Hidup seharusnya ga sekonyol ini", atau kadang "Mungkin aku banyak salah, aku ga bersyukur, aku bukan orang pilihan karena aku terlalu jahat". Argumen-argumen pribadi menjadi sumber segala isak tangis yang ada. Ya, aku pernah sebodoh itu.



3. Tawar-Menawar. Kebetulan aku tipe orang yang sering berimajinasi akan segala kemungkinan yang ada. Over-thinker, maybe? "Tuhan, kalo Engkau kembalikan yang hilang itu, aku akan lebih baik menjaganya". Aku sering terlalu lama di fase ini. Aku berusaha mengadakan penawaran pada Tuhan agar sesuatu yang ku anggap baik itu, dapat kembali dan aku tidak akan merasa sesedih ini. Berharap segala bujuk rayuku dalam setiap "Kalau saja..." akan meluluhkan takdir pahit itu. Wkwkwk, maklum aja kali.


4. Depresi. Puji Tuhan pada Sang Gusti pemilik Semesta, aku diciptakan dengan hati dan logika yang seimbang. Tak sempat aku berfikir hal-hal praktis untuk melewati fase kehilangan. Aku masih lebih menyayangi harapan-harapan orang atasku. Dan itulah yang buat aku bangkit sejadi-jadinya. Oh beruntungnya aku :)


5. Penerimaan. Fase yang sangat teramat lama aku lalui. Namun kesadaranku masih penuh. Tidak ada pilihan lain, selain menerima dan melepaskan. Karena aku sering beranggapan bahwa jika hal yang hilang itu kembali, akan mengobati bilur-bilurku yang hampa. Tapi itulah sok taunya aku, menciptakan kebahagiaan dengan caraku sendiri. Konyol dan Bodoh. Seakan-akan Sang Gusti, Si Penciptaku, tidak tahu apa sesungguhnya yang membuatku bahagia. Dan kadang, aku malah berjudi pada dengan sang Gusti, "Ah, pasti ketika aku merelakan dia pergi, aku akan diberikan kebahagiaan yang baru". Padahal sesungguhnya pernyataan itu adalah nyata, tapi aku meragukannya. Aku lebih memilih bertahan pada hal yang aku anggap membahagiakan aku padahal sesungguhnya aku akan disuguhkan pada kebahagiaan yang lebih berlipat ganda. Maklum, manusiawi.

5 Steps of Grief, lima tahapan yang tidah mudah dan mungkin teramat berat, tapi sebenarnya menumbuhkan hal-hal baru dalam hidup, entah itu iman, pengharapan, pemikiran dan sebagainya. Itu semua tergantung kamu memandang dari sisi mana.

Setelah aku baca makna 5 tahapan ini, aku sadar aku terlalu lama stuck pada bagian bargaining dan acceptanceLalu, kamu biasanya paling lama di posisi yang mana?


Comments

  1. dalem banget ini nop, rasanya kayak di lempar kulit duren T__T
    Btw, tulisan2 kamu bagus, aku suka suka sukaaaa banget :*

    ricafairikha.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Duh Rica, kok aku yang horror bayangin kulit durennya. btw, thankyouu ya... *langsung blogwalking*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyamannya di Rumah Doa Segala Bangsa, Bukit Gibeon Sibisa | #3 Anak Kota Pulang Kampung

[Anak Kota Pulang Kampung] Belakangan ini, Medan lagi dingin banget ya, berasa lagi di daerah Tapanuli Utara. Brrrr... Jadi keinget lagi dengan liburan akhir tahun lalu. Bentar, kayanya sedap nih nyeruput teh manis anget + nyelupin roti Regale.. Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa masih terbilang baru, diresmikan tanggal 14 Mei 2016. Akupun mengetahuinya dari beberapa teman yang udah pernah ke sana duluan. Jadi jiwa panjang kaki ku, keluar begitu saja. Rasa penasaran ku juga meningkat pesat. Intinya, ga mau ketinggalan sih, wkwkwk... Iya, aku kemarin ngotot sekali untuk mampir ke Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa, padahal dari segi pemetaan, bisa saja aku dan keluarga melewati jalan Tele dari Pulau Samosir untuk menuju Tarutung. Tapi, panjangnya kakiku ga bisa dilawan. Kami pun menurutinya. Hahaha.. Seperti biasa, karena kami sebelumnya nginap di Pulau Samosir, kami pun menyeberangi Danau Toba sekitar 1 jam lebih. Pemandangannya, bolak-bal...

Tutorial Hampir Terlambat Untuk Bersama

Gue dulu agak pesimis dengan kekompakkan kelompok tutorial gue, mereka adalah kelompok B.1 ruang 3.13. Entahlah, gue ngerasa ada aja yang kurang di kelompok ini. Sedikit acuh tak acuh, mungkin. Kalau kelompok ini begini terus, sempat mikir pengen pindah ke kelompok lain (Tapi pasti tak mungkin), apalagi denger-denger dari senior, ketika nyusun skripsi, temen-temen tutorial kalian lah temen skripsi kalian. Emm, bukan merasa sok hebat atau gimana, tapi gue ngerasa Down To Earth aja. Skripsinya susah, mikirin temen satu doping (dosen pembimbing) lagi. Oke mending gue ngerayap didinding. Sebentar, aku perkenalkan satu per satu: Novia Giovani (211 210 002) Fransiska Sinaga (211 210 004) Mona Liany Sinaga (211 210 006) Iwan Petrus Tampubolon (211 210 008) Joab Abigail Sitompul (211 210 010) Meri Bidani Damanik (211 210 012) Gracia Medina Pinem (211 210 014) Ika Agustinawati Siahaan (211 210 016) Inrinogro (211 210 018) Agus Chandra Sembiring(211 210 020) Raskami Pe...

One Day Trip Moyo Island | Nusa Tenggara Barat

Salah satu destinasi terbaik di kawasan Nusa Tenggara Barat dan lumayan tersohor sampai ke luar negeri adalah Pulau Moyo. Awalnya, mungkin kita lebih familiar dengan Pulau Lombok dengan banyaknya pantai eksotis dan pulau-pulau ciamik di sekitarnya. Nyatanya, dari kawasan Pulau Sumbawa masih tersimpan Pulau Moyo yang diam-diam bisa buat kita terpesona. Hemm... Ya setelah beberapa drama sebelum berangkat untuk liburan singkat ini, akhirnya aku dan beberapa teman berhasil untuk memijakkan kaki di Pulau Moyo. Berawal dari promosi Open Trip Pulau Moyo untuk 50 orang dari seorang teman, kami ga nyia-nyiain kesempatan itu. Harganya cukup terjangkau dibanding dengan Trip Agency lainnya, yaitu Rp 170.000/orang dengan fasilitas kapal PP, guide , sarapan dan makan siang, biaya masuk desanya, ojek jaga-jaga ketika nge- tracking . Spot tujuannya yaitu: Air Terjun Mata Jitu, Kolam Lady Diana, Kolam Biru, Takat Segele ( Tempat Snorkeling ). Kami disarankan sampai di pel...