Skip to main content

Alasanku Memutuskan Untuk Hengkang Memanjakan Perut

Kalo ditanya sekarang sedang mendalami apa? Aku sedang mendalami Makanan Sehat, karena memang di tahun ini aku pengen meninggalkan dengan segala cara makanku yang seenaknya saja (mana yang aku suka, aku makan), hantam kromo (kalo lagi laper selaper-lapernya, aku makan sampai bener-bener full, akhirnya kekenyangan dan tidur), kalo enak susah berhenti (Apa yang enak, pasti kita makan terus sampai kita benar-benar puas dan bosan akan rasanya. Dan kenapa yang enak-enak itu enggak boleh dimakan sesuka hati?), dan menghapus keyakinan "Makanannya mubazir, sayang kalo dibuang" (sumpah, ini alasan yang baik tapi berujung enggak baik, percayalah!). Nah, kebetulan juga aku makin hari, makin mendekati ujungnya dunia per-koas-an. Banyak hal yang ku dapat sih, apalagi tentang yang namanya kesehatan (I mean, bukan sisi kedokterannya, tapi sisi sosial dan gaya hidup).

Sumpah, biaya berobat itu mahal!

Betapa bijak orang yang menciptakan semboyan "Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati". Berusahalah untuk tidak sakit. Berusahalah untuk memelihara kesehatan. Kesehatan itu, investasi seumur hidup.(tolong itu diberi garis keras ya guys!). Kebayangkan, kalo kita sakit, biaya mahal, ngerepotin orang (sorry, in this case maksudku untuk penyakit-penyakit karena gaya hidup yang amburadul, bukan karena faktor degenaratif), nambah-nambah pikiran, bisa buat kita yang sakit jadi depresi - merasa jadi beban untuk orang lain. Contohnya: masih umur 30an tahun udah kanker paru-paru, masih umur 20an akhir udah gejala sakit jantung karena obesitas, masih muda udah mau cuci darah, dan banyak sakit penyakit yang kayanya ga wah banget untuk kita peliahara seumur hidup atau malah makan obat seumur hidup.
I just being realized that, mending pakai penghasilan untuk memelihara kesehatan, daripada berobat. Aku tipe orang yang memang mesti mikir beberapa kali untuk membayar sesuatu dan meng-compare antara Aku makan enak dan puas, terus nanti makin naik berat badanku, jadi memancing datangnya penyakit, berobat pula lagi, atau porsi atau apa yang dimakan itu, dirubah, terus nanti uangnya dipakai untuk jalan-jalan atau membiayai hobby? Kan lebih worth it duitnya. See?

Sakit itu enggak enak, mahal dan ribet. Dan aku pribadi, aku mending nge-secure badan aku dari hal-hal itu. Aku paling males yang namanya sakit. Jadi, pas nyadar begitu, aku mulai berniat untuk mengurangi makan makanan yang sebenarnya ga penting-penting amat, tapi karena "enak dilidah" aku jadi mengikuti keinginan daripada kebutuhan badanku sendiri. Aku merubah pola makan, karena aku sayang sama badanku. Dia rumahku, seumur hidupku.

Aku, Parno-an!

Basically to be me, aku orang yang sedikir parno dengan namanya penyakit. Kaya pernah aku sakit di sendi kelingking, aku langsung mikir "Mati, Asam urat ini. Asama urat. Gila, bengkak, merah, nyeri, dan agak gatal", Karena aku lebih berpusat pada rasa sakit, dan keburu panik, aku lupa rasa gatalnya itu. Eh, rupanya, itu cuman digigit semut yang kebetulan kenanya di sendi kelingking. Atau pernah tiba-tiba penglihatanku berputar-putar, mual, muntah, "Mati! Aku kena vertigo? maag? Perasaan aku makan teratur? Perut ga pedih". Iya, aku cuman masuk angin. Hehehe, to be me is very overthinking actually. Karena aku paling takut sama namanya sakit (berhubung aku pernah oprasi usus buntu / appensitis dan gigi), aku itu jera. Walaupun aku calon dokter, tapi ngelihat suntik itu, masih horror, for sure. Hahaha..
Aku berusaha semaksimal mungkin, jangan sampe hari-hariku terbengkalai, luntang-lantung dan berjalan begitu aja karena aku sakit. Ya kan, kalo kita sakit, pasti mau ngapa-ngapain juga males. Harinya ga jadi worth it, gitu. Pfftt...

Penampilan? Hem...

Aku bukan tipe orang yang bisa melucu karena kelebihan (berat badan, hahaha..) yang aku punya. Aku enggak memungkiri kok, banyak orang yang malah bisa menjadikan Kelebihan Berat Badan, sumber mata pencahariannya. Ya walaupun aku dulu cuek, berpenampilan asal jadi yang penting akunya nyaman. Dan sekarang aku ngerti, penampilan bisa meyakinkan orang lain (mungkin jodoh? Hahaha..) percaya sama kita.

Dan aku pribadi. beberapa orang, terutama keluarga, teman-teman dekat dan bahkan orang-orang yang baru bertemu denganku, udah sedikiti mengkritik,"Kak, dikurangi dong badannya. Anak gadis jelek loh kalo gendut. Mama aja jadi sama ayahmu, berat mama sekitar 45-50 kg. Kakak belum jadi mamak-mamak aja udah 60an kg." Iya pula ya kan weeee? Another comment," Nov, kamu itu manisnya, cuman kurusin dikit, hehehe...". "Masa gendut? Dokter kok gendut?". Damn it Well! Aku nyesal gendut.

Emang semakin kita dekat ke dunia nyata, semakin perlu mendengar saran orang lain, dan memilah-milahnya, mana yang baik untuk kita. Rasaku, beberapa komentar diatas tidak layak aku buang begitu saja. Rasaku,mereka ada benarnya. Rasaku, memang harus ada yang dirubah dari gaya hidupku. Hemm.. Prinsipnya sederhana, apa yang kita makan, itu yang terpancar dari diri kita. So how? Masih mau makan asal-asalan tanpa mikirin, apa sih yang sebenarnya dibutuhkan tubuhku?

Profesiku, Penasehat Kesehatan (Iya, dokter)

"Cobalah lihat dia, bilangi orang untuk diet nomor 1, jangan ngemil, makan nasi jangan banyak-banyak. nanti gendut. Tapi dia sendiri tumbuhnya ke samping", salah satu pernyataan pasien yang berbisik ke pasien lainnya, dan aku (anak koas) mendengarnya.

Itu pernyataan yang cukup keras sebenarnya. Kita (dokter) seharusnya punya penampilan yang baik dan pola hidup yang seimbang, sebelum kita menasehati pasien. Dan juga, aku juga pernah baca artikel ini: http://health.liputan6.com/read/666512/menkes-sarankan-dokter-gendut-diet. Artikel itu menggelitik, tapi cukup menggigit. Setidaknya, alam sudah mengkode aku untuk ngambil langkah untuk memperbaiki pola makan.

Simplenya, aku calon dokter, masa iya aku nyuruh pasienku yang obesitas untuk mengurangi makan berlemak, sementara aku delivery order fast food. Atau aku nyuruh pasienku yang kena diabetes mielitus (kencing manis), untuk mengurangi konsumsi gula, sementara cemilanku itu entah apa-apa aja yang manis? Setelah aku mikir-mikir begitu, aku baru ngerti, kenapa aku harus mengatur pola makanku.

Soon, I wanna be A mother.

Belakangan aku menerima beberapa permasalahan yang agak sensitif "Susah Hamil". Di luar umurku masih 23 tahun (Sebenarnya udah cukup sih untuk menikah, cuman jodohnya belum nyampe), aku mesti memperhatikan masalah pelik suatu keluarga yang satu ini.

Selain faktor stress pekerjaan, tekanan dan tuntutan hidup, ada yang perlu disadari bahwa, pola makan bisa mempengaruhi (dan bahkan punya dampak yang kuat) kesuburan seseorang. Ada banyak kok, wanita-wanita atau pria-pria yang agak tambun, susah memiliki anak. Setelah konsultasi ke dokter, jika pasangan itu punya badan gemuk, advice pertama adalah turunkan berat badan. Iya, dari segi kedokteran, berat badan mempunyai pengaruh yang besar berkaitan dengan kesuburan (kalo dijelaskan secara kedokteran di sini, jadi panjang nanti). Ya emang keturunan itu adalah rezeki dari Sang Maha Esa dan ntah usia berapapun aku menikah nanti, setidaknya investasi "lahan subur" tidak rusak, tidak tertutup lemak-lemak.

Jadi kalo ditanya, kenapa aku memilih hengkang dari dunia "Makan asal-asalan", itu alasannya. Sebenarnya kalo pun kita sudah nyadar alasan-alasan simple itu, tapi ga nyadarin bener-bener lalu bertekad untuk bangkit ke pola hidup yang sehat, it's useless. 

Be wise, be healthy, guys! Hidup terlalu sayang untuk bergantung pada obat seumur hidup.

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Odessa Matte Lipstick Shade Odovan & Sunshine | My Favorite Daily Lipstick

Beberapa hari, sebelum ujian, aku sempat mengunjungi salah satu Mall baru di Medan. Mall- nya tidak begitu besar, cuman isinya lumayan lengkap kok. Namanya  Manhattan Times Square Medan  dengan ada semacam hotel atau apartemen yang nyatu dengan Mall-nya (kurang tahu), cuman  terakhir aku ke sana, masih dalam pembangunan. Ketika aku jalan-jalan disekitar tempat make up , aku menemukan satu produk baru, yang sama sekali belum pernah aku pake dan aku temui review nya. Ga usah pakai, denger namanya juga baru waktu itu. Padahal awalnya mau nyari lipstik merek lain. Cuman, pas aku nyoba, i feel love at the first sight. Sebelumnya, kayanya setelah aku perhatikan, tahun 2017 ini tahun warna nude merajai disegala aspek tema make up , mau itu make up kerja, make up hang out , atau bahkan make up nikahan. Memang warna nude itu punya kesan lembut dan berkelas. Dan untungnya, kulit wajahku emang berjodoh dengan warna ber- genre nude. HAZEEEEEEK!! Odessa Matt...

[REVIEW] Tea Tree Oil - Jerawat Kempes

Eaaak!! Siapa deh yang musuhnya jerawat. Puji Tuhan, Alhamdullilah ya, aku bukan daily-rival -nya jerawat. Aku emang bukan turunan dari spesies orangtua yang berjerawat. Jadi saya bukan termasuk orang yang butuh perhatian khusus untuk menampis yang namanya jerawat.  Kehidupanku dan Jerawat Jerawat itu mah pada dasarnya salah satu proses fisiologisnya tubuh kok, salah satu penanda kamu itu udah akil balig. Kenapa? Brarti disitu ada proses adaptasi tubuh dengan adanya perubahan sistem hormonal kamu.  Jadi inget, dulu waktu masih SMP,  jidatku memang lahan subur buat tumbuh jerawat. Selain karena proses akil balig, wajahku emang jenis yang normal-oily , tapi ga berminyak2 kali kok. Justru seharusnya kamu bersyukur kalo punya kulit yang sedikit oily , karena kulit kamu akan tetap kenyal dan tidak mudah kering. Kebayang dong kalo kulit wajah kering, terus wajah sering berekspresi, sadar ga sadar akan cepat timbul kerutan-kerutan, semacam proses p...

Pengakuan 1

Aku mengenal namamu pertama kali waktu aku mendengar dari teman-temanmu. Kalau ga salahku, itu tanggal 13 Februari 2009, sehari sebelum acara valentinenya OSIS. Kamu dibilang pinter buat puisi. Sampai-sampai aku datang ke kelas kamu, menagih puisi itu. Hahaha.. Di situ aku belum punya perasaan sama kamu. Karena aku melihat kamu terlalu gemulai. Taulah maksudku apa. Hehehe.. Ditambah lagi kamu meng-add Facebook ku dengan nama aneh, profile picture pun foto artis. Hemm.. Kamu membalas wall to wall ku pun, semacam begitulah. Masih biasa disitu perasaanku. Oh ya, aku mulai melihat kamu berbeda ya pas sehari sebelum acara valentine OSIS itu. Aku masih inget kali itu gimana kejadiannya. Kalo ga salahku, kamu pegang LKS PPKN. Kamu kena hukum sama guru karena ga ngerjain tugas. Sejak disitu aku memandangmu lain. Bukan benci, bukan suka. Entah apa itu namanya. Aku penasaran sama kamu. Aku curnhat salah satu temanku tentang perasaan itu. Hahaha..! Parahnya kamu keluarga dari g...