Saya sempat bingung, kalo
kumpul-kumpul sama teman-teman perempuan, pembahasannya pasti sekitar
pertemanan, make up, fashion, dan asmara. Saya sedikit jengah, pembahasannya
itu ke itu saja, apa enggak ada ha lain yang bisa dibahas ya? Heemm..
Dan kebetulan saya belakangan
ini, lebih tepatnya setelah menyandang status single, saya sedikit lebih banyak
bergaul dengan teman-teman lelaki, maksudku kalau dulu pas pacaran, saya lebih
dominan berteman atau berpergian entah kemana, dengan hanya teman-teman perempuan.
Teman-teman lelaki agak saya singkirikan dari daftar kehidupan, karena ada
alasan-alasan tertentu. Kini saya lebih
banyak tukar pikiran dengan teman-teman lelaki, entah itu tentang pendidikan,
keuangan, pekerjaan, asmara dan aspek kehidupan yang lain. Dan saya ngerasa,
saya mendapari sisi pandang yang baru dari mereka, si kaum dari planet Mars
ini. Gimana mereka lebih memandang sesuatu hal secara logika dan realistis,
membuang yang namanya drama. Bagaimana prinsip-prinsip keras mereka terhadap
hidup. Bagaimana cara pertemanan mereka, almost all are solid.
Dan tak jarang mereka ternyata
juga sering curhat-gossip gitu. Ternyata mereka tidak kalah jago dengan perempuan-perempuan
ketika ngumpul, nongkrong, terus nge-gossip. Cuman aku pribadi lebih suka menyebut
mereka itu sedang “Beradu argumentasi”, ketika ngegossip. Hemm, apa aja yang
mereka bicarakan? Ini nih:
Pekerjaan
Di usia saya dan lingkungan
pertemanan, memang sedang di jenjang peralihan antara masa kuliah dan meniti
karir. Jadi, mereka lebih concern bicarain masalah lowongan kerja atau peluang
usaha. Misalnya si A sedang melamar kerjaan, terus ikut testing, terus
dipanggil untuk wawancara, pasti itu banyak ditanya-tanyain. Gimana
test-testnya, apalagi test wawancara. Bagian apa yang diambil dan gimana
prospek kerjanya. Berapa gajinya (a must banget kayanya). Dimana penempatannya.
Gimana lingkungan kerjanya itu.
Ga jarang juga antara mereka yang
saling beradu argument tentang tempat kerjanya si A dan si B. Kenapa dia bisa
masuk? Apalagi ketika kita udah masuk ke dunia lapangan, ada aja gitu hal-hal
yang sebenarnya jadi “tanda tanya” kenapa seseorang bisa lulus.
Itu - serius - akan - jadi -- perdebatan----yang-----sengit. Sometimes, ada juga semacam
“kecemburuan sosial” diantara mereka. Tapi namanya juga lelaki, gimanapun
perasaan mereka, mereka tetap bisa konsisten dalam pertemanan.
Hobi
Selain prinsip dan cara pandang
hidup, ada satu hal yang bisa menyatukan mereka, hobi. Ini sama sih kaya perempuan-perempuan,
mereka akan berkoloni untuk menyelurkan hobi mereka. Banyak sih hobi mereka,
dari yang minimalis kaya mancing ikan, nge-game Dota / Point Blank / COC /
PokemonGo! Atau game apapun itu, touring dari pulau A ke pulau Z, traveling manjat
gunung kek atau sekedar nge-explore tempat-tempat baru sampai buat club mobil
atau apalah. Hobi adalah salah satu alasan mereka untuk bertemu dan ngumpul
duduk ganteng.
Dan namanya juga lelaki,
pertemanan itu adalah investasi jangka panjang, apa saja bisa dibuat mereka
jadi peluang. Iya, dari hobi dan pertemanan, mereka bisa memperluas link
mereka. Ga muluk-muluk deh, di jaman “kalo ada link, hidup lebih mudah”, kita
sangat butuh teman-teman dari berbagai kalangan, mau dari tukang becak sampai
anggota parlemen sana. See?
Fans of their favorite
Setiap lelaki punya role mode
mereka atau seseorang yang mereka kagumi. Bisa itu club bola, seorang pembalap,
seorang actor atau bahkan seorang pemain music yang mereka adaptasi prinsip
hidupnya. Namanya juga lelaki, mereka akan membela mati-matian si “role
mode”nya itu, mempertahankan argumen tentang sesuatu yang dia kagumi. Karena
inget, hampir semua lelaki itu adalah spesies pantang menyerah dan punya
prinsip “harga diri bisa jatuh kalo kalah berargumentasi”.
Perempuan
Huahahahaha! Every human will
talk about their feeling. Lelaki juga bakal nyeritain tentang perempuan yang dikatinya,
pada waktunya atau tentang pacarnya. Dan lelaki akan menceritakan hal itu hanya
pada beberapa orang yang bener-bener dipercayanya untuk menjaga rahasia atau
memberi saran tentang masalahnya dengan pacarnya atau membantunya untuk
mendekati si perempuan yang sedang dibidiknya. Saya, yang beberapa kali
dijadikan tempat mengadu “dia itu susah kali ditebak, apa semua perempuan itu
sama?”, “dia itu payah kali didekati, jual mahal banget!”, “dia kok
marah-marah? Apa dia lagi mens?”. Saya kadang bingung mau ngasih saran apa,
karena saya juga kadang-kadang juga begitu jadi perempuan, wkwkwk..
Tapi, ada hal yang saya sadari
dan bener-bener terjadi di depan mata saya (mungkin udah banyak sih yang
mengetahui hal ini) kalo sebenarnya lelaki itu akan mendekati beberapa perempuan.
Lalu dia akan lebih intens ke perempuan yang lebih ngerepons atau yang posisi perempuan
lebih dekat dengan dirinya. Ya wajar sih, lelaki itu makhluk yang lebih dominan
sisi visualnya. Makanya ga heran ya ada meme yang nge-subtitusi lelaki sebagai
Bluetooth dan perempuan sebagai Wi-fi. Perempuan mah tahan-tahan aja LDR, asal
si lelaki juga tetep komunikasi.
Selain perempuan sebagai gebetan,
ada juga percakapan mereka tentang perempuan-perempuan yang bisa “dipakai” atau
sekedar dijadikan fantasi. Sure, you have known what I mean, right? Entahlah,
apa mereka sudah menganggap saya itu perempuan separuh lelaki, mereka akan
bebas-bebas saja nyeritain itu ke saya. Tapi, for you (ladies) to know, masih
banyak loh lelaki yang sangat menyayangkan kalo perempuan hanya bermodalkan kecantikkan,
sexy, dan bohay, kemudian “dipake” sama orang. Mereka bilang,”Coba
perempuan-perempuan itu kaya Dian Sastro, Raissa, Isyana, Pevita Pearce, Nadine
Chandrawinata. The most Wanted girl and mom ever! Cantik iya, pinter iya,
berprestasi iya, not too much make up, terus bisa diajak travelling. What a
life!”. Saya ga ngerti, mereka memang sedang ngimpi atau gimana. Hahaha..


Comments
Post a Comment