![]() |
| Udah ngebet banget pengen ngelahap. |
Aku sebenarnya agak dongkol
dengan ucapan orang-orang kalau buah dan sayur itu mahal, susah didapat,
rasanya juga ga begitu bersahabat di lidah dan jika dibeli bakalan cepat busuk
kalau ga dimasukkan ke kulkas. Apa ya, itu semacam mencari pembenaran kalau
makan buah dan sayur, menyusahkan dan boros. Ah-elah, tolong!
Jauh sebelum aku ingin
menginspirasi orang-orang untuk lebih mengkonsumsi buah dan sayur, di rumah, aku
diajarkan untuk teratur makan buah dan sayur. Kenapa? Di tubuh kita banyak
toksin-toksin atau racun yang datangnya entah darimana saja - tanpa kita sadari, yang
bisa mempengaruhi system kerja organ dalam tubuh. Ujung-ujungnya bisa
menurunkan efektifitas kerja organ, menurunkan kualitas imunitas tubuh, toksin
dan bakteri pathogen nongkrong di jaringan tubuh, tubuh sakit, uring-uringan,
ga kerja, dan terakhir, nyusahin orang. Mau?
Mama aku bukanlah dokter, tapi
dia itu pintar memelihara kesehatan, terlebih lagi rumah kami itu berdiri di
lingkungan rumah sakit dan pabrik. Udah tergambar dong ya berapa banyak
benda-benda asing yang mencoba nyusup ke tubuh dan mengganggu system imunitas. Jadi
mamaku memang selalu menyediakan buah, minimal buah jeruk atau pear. Mereka
itu tinggi mineral dan vitamin. Dan kalau untuk makan sehari-hari, sesibuk-sibuknya beliau,
mama akan menyajikan lalapan atau sayur sekedar rebus. See? Ga repot, kalo kita
niat. Kalo udah ga niat----------ah udah ga ada lagi pengandaian kalo sangkin malasnya
makan sayur dan buah.
![]() |
| Bentar-bentar, biar Update Blog |
Karena begitulah, kebiasaan itu
jadi terbawa-bawa sampai sekarang. Memang waktu awal-awal kuliah, aku malas
sekali makan buah, tapi kalo sayur tetap jadi menu aku. Kenapa malas makan buah?
Malas beli, lokasi pasar rada jauh dari kostan, jadi aku malas jalan ke
pasarnya itu. Kenapa malas makan buah? Malas kupas kulitnya, kebiasaan
dikupasin sama mama. Kenapa malas makan buah? Ya, emang malas aja, lebih suka
ngemil. Jadi inti sebenarnya dari alibi-alibi tadi, yaaaa MALAS. Wkwkwkwkwkwkwk…
Tapi, seiring aku koas, aku
beberapa kali menemukan pasien (bahkan seumuran aku) yang sudah terkena
penyakit, mau dari yang akut- kronis. Seperti yang aku bilang di blog aku
kemarin "Memutuskan Untuk Hengkang Memanjakan Perut", aku ada makhluk yang parno-an. Aku memang calon dokter, tapi aku
paling benci sama yang namanya rumah sakit. Rasanya itu tempat yang mengerikan,
menyedihkan, dan kurungan yang paling enggak banget. Rasanya kalo udah masuk
rumah sakit, beberapa persen dari jatah usia udah menguap tak jelas arahnya.
Duh, jauh-jauhlah ya Gusti.
Kalo dibilang buah itu mahal, aku
agak bingung. Kemarin sebelum aku makan buah, aku sempat mengkalkulasi harga
buah yang aku makan. Jadi, aku itu baru beli 2 buah naga dan 4 buah kiwi di
Pasar Buah Pondok Indah, Medan. Entah, aku bahagia kalo masuk ke sini. Mata aku
segar sekali! Pokoknya untuk sekali makan, setengah potong buah naga + 1 buah
kiwi, aku hitung-hitung cuman habis Rp 13.246,-. 1 porsi Itu pun berlebih, bisa
dibagi 2 lagi, jadi sekitar Rp 6.623,- (yaudah cincai-cincai, genapin jadi Rp
7.000,-) Nah kalo dibandingkan dengan 1 nasi goreng + es teh manis, bisa kena hampir Rp 15.000,- untuk sekali makan. Jadi piye? Mikirin mahal lagi?
![]() |
| Oke, aku makan dulu yaa |
Pernah denger "Yang manis jangan langsung ditelan, yang pahit jangan langsung dimuntahkan"? Nah, itu prinsip wajib ketika kita mau berhijrah pola makan, yang mengedepankan porsi buah dan sayur. Berdasarkan artikel berita "Anak Muda Jakarta Konsumsi Karbohidrat Berlebih" tingkat konsumsi karbohidrat dan kurangnya makan makanan tinggi serat akan meningkatkan jumlah penderita diabetes tipe dua, dan itu akan terjadi pada usia-usia produktif, yang ujung-ujungnya akan menurunkan kesejahteraan dan malaaaaah menambah beban negara. Geng, hidup kalian ga nge-hits banget kalo jadi beban orang lain. Iyuggghh....




Setelah sliweran, kadang bilang 'aku' kadang bilang 'saya'. Si Saya dan Aku akhirnya kebingungan hahah
ReplyDeletehhaha, ga fokus pas nulis kayanya qaqa :''')
ReplyDelete