Ketika saya berjalan mau beli paket data di
sekitaran jalan Dr. Mansyur, daerah kampus USU, saya beberapa kali
mengitari jalan itu hanya sekedar mencari mana harga yang murah
tapi paketnya gede? (Iya, saya emang kurang kerjaan, indeed). Sambil
beberapa kali berbalik arah, otak saya bagaikan sempoa, menghitung perbandingan
jumlah kuota dan harga yang ditawarkan. emang kadang, antara pelit dan
selektif, susah diklasifikasi. Tapi jiwa seorang perantau yang masih merintis
-sebutan yang cukup berkualitas untuk anak kostan pengangguran, ya?-, yang
menganut "puas dengan harga murah" masih begitu kental di diri saya. Selama masih merintis, mungkin akan terus terpatri.
Sebagai penyandang status
anak yang masih lebih banyak bergantung pada orangtua –sampai umur segini,
maklum dokter itu lama kelar sekolahnya-, saya berusaha menekan keuangan. Setidaknya
ketika saya belum bisa menghasilkan uang yang bener-bener mencukupi kebutuhan
saya, saya mulai sadar untuk lebih mengajarkan diri menabung. Ya, Puji
Tuhannya, tahun ini menabung menjadi kebiasaan wajib bagi saya. Emang belum high recommended consultant banget untuk mengurus masalah financial, tapi saya yang nantinya
bakalan jadi seorang ibu, dan setahu saya ibu itu mesti pintar-pintar mengatur
keuangan, saya jadi lebih ingin lebih lagi mendalami keuangan.
Sumber keuangan ala-ala perantau? These’re my ways:
1. Jauh sebelum postingan ini
dibuat, saya sudah pernah menuliskan Investasi Ala Perantauan http, gimana saya menyisihkan kira-kira 10% dari uang bulanan saya. Bagaimana-pun
keadaannya, sebisa mungkin uang yang sudah disisihkan tidak saya pergunakan.
Kalau pun digunakan (such for buying cosmetics or another girl’s stuffs I can’t
ignore Hahaha!), aku akan mencatatnya di buku keuanganku pribadi, yang nantinya
akan digantikan dengan uang bulanan di bulan berikutnya. Jadi semacam ngutang
ke diri sendiri. Kalo enggak sanggup bayar, berarti diri saya sendiri yang
belum kekeuh untuk menabung.
2. Nah, ini juga tentang recehan
yang sering dipandang sebelah mata, saya sudah pernah menulisnya di Recehan Keajaiban,
saya punya kebiasaan tidak menggunakan uang receh, malah saya kumpulin dalam
satu tempat, yang akan saya akumulasikan per-6 bulan. Remeh sih nampaknya, tapi
saya udah dapat efek positif dari recehan, lho..
3. Dulu saya sempat coba-coba
mencari uang sendiri dengan memjual baju kaos gitu, saya concern ke kaos
kedokteran gitu. Dengan mendesain kaos sendiri, terus kerja sama dengan tukang
sablon, keuntungannya lumayan kok, bisa nabung. Cuman karena kesibukan anak
koas yang enggak menentu, saya sekarang vakum. Selain itu, saya jadi freelance writer
gitu, atau kaya sekarang saya lagi suka nangkring di website www.freelancer.com (overseas) atau www.sribulancer.com (local),
tempat lowongan kerja freelance gitu. Ya mungkin buat kamu-kamu yang pengen
nyoba nyari duit sendiri (demi apapun, ada perasaan Wah! Ketika kamu bisa menghasilkan duit untuk pertama kali) atau kuliahnya
di fakultas A tapi punya hobi atau bakat diluar dari program studimu, kamu
bisa nyari di website itu kok. Ya kalo dapat gaji, kan bisa ditabung toh.
Dulu saya itu suka-sukanya make uang orangtua, some of them was spend useless. Kadang saya menggunakannya hanya karena ngikutin jaman, biar
dikata anak gaul. Namun, makin tua umur, makin matang juga isi kepala. Sekarang
lebih mikir kalau ngeluarin duit. “Ini
emang perlu, atau sekedar lapar mata?”, “Diskon sih, buy 1 get 1 free, tapi
emang fungsional enggak ya?”, dan banyak pemikiran-pemikiran ala-ala ibu
rumah tangga. Lebih perhitungan, lebih menargetkan hal-hal yang dibutuhkan.
Sob,
kita-kita yang terbilang masih sedikit banyak ditanggung orangtua, ada
baiknya kita membuat menabung jadi salah satu kebiasaan terbaik kita.
Menabug ga cuman sekedar ngumpulin duit, tapi belajar komitmen dan disiplin sama diri sendiri. You wanna try?
Comments
Post a Comment