Skip to main content

Makan Seafood Jangan Kasih Longgar di Percut Sei Tuan

Potret Dari Atas Kapal
Well, sebelum aku beranjak dari Medan, izinkan aku mengungkapkan bahwa Medan membentukku lebih jauh lebih matang. Dan Medan begitu membahagiakan. Tapi, bukan itu yang mau ku bahas. Hahaha..

Sebelum aku kembali ke kampung halaman untuk pamit *halah!* karena mau internsip, aku sempat pergi salah satu destinasi yang lagi-lagi sudah masuk list ku, tapi enggak tau bagaimana ke sana dan dengan siapa. But, emang dasar rezeki anak soleh *enggak soleh-soleh amat, seriusan!*, aku diajak teman-teman sekostan untuk pergi ke Percut Sei Tuan.

Percut Sei Tuan salah satu tempat terbaik untuk pecinta seafood ditambah lagi dengan suasana angin laut, nelayan menjaring ikan dan bunyi mesin kapal. Warning, sebelum ke sini coba cek kolesterol kalian ya!

Let get Lost!
Aku sama sekali belum pernah ke sana, cuman nama tempat ini sering kedengaran di telingaku. Yaiyalah, selain dinobatkan sebagai ratu lele se-teman-permainan, aku adalah penggila udang. "Berikan aku sekilo udang, maka aku akan mengguncang perutku". Eh tapi, kayanya kurang deh kalo cuman sekilo. Ckckck.. *geleng-geleng kepala* 

Kalau dari Medan, kira-kira Percut Sei Tuan dapat ditempuh selama 45 menit sampai 1 jam. Jalannya lebar dan sudah beraspal. Mungkin cuman dibeberapa tempat yang masih berlubang. Banyak belok-beloknya, jadi saranku sih, kalo misalnya belum pernah ke sana, sebaiknya pakai bantuan Google Maps. Sesampainya di sana, ada tempat parkir kok, biayanya Rp 20.000, hemmm... Biaya itu kayanya untuk per sekali parkir, bebas berapa jam. 

Senyum Mau Ketemu Udang.
Hal pertama yang bakalan didapati adalah para penjual ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Banyak pilihan genk, seriusan! Mau apa? Ikan ada. Udang, cumi-cumi, kepiting, lobster, dan banyak lagi. Awas silap-lah pokoknya. Hahaha! Cocoknya kalo ke sini, kita wajib bawa mamak-mamak. Kenapa? Biar bisa nawar. Hahaha.. Kata teman sih, semakin sore, harga semakin murah (tapi kualitas masih bagus kok). Mungkin prinsip mereka, "daripada tidak ada yang membeli". Btw, maaf ya enggak ada dokumentasi pas di TPI. Aku lupa. Hehehe..

Setelah memilih apa yang mau dimakan, belanjaan kami dibawa oleh orang setempat. Karena nanti di sana juga disediain jasa memasaknya. Bisa digoreng, diasam manis, ditaucho, disaus tiram, dibakar dan lain-lain. Jadi kami semacam di-full service-kan gitu. Untuk tempat makannya, kita dikasih pilihan mau dipinggir sungai atau ditengah lautnya? Kami kemarin memilih ditengah laut, biar greget! Wkwkwk.. Tapi, dengan resiko, sinyal agak susah. Ya, agak susah update pas lagi ditengah laut.

Di depan tangga rumah makan terapung.
Dengan menggunakan kapal, kami melewati sungainya menuju rumah makan terapungnya. Sungainya berwarna coklat kekuningan dan tenang. Namun sayangnya, sepanjang mengarungi sungainya, aku banyak mendapati sampah-sampah plastik yang mengapung dan bahkan ada yang terseret ke akar-akar tanaman bakau. Ada juga rupanya beberapa ekor monyet yang mendiami hutan bakaunya. 

Aku kurang tau apa nama rumah makannya, enggak begitu memperhatikan soalnya. Wkwkwk.. Namun sejauh mata memandang. di tengah laut cuman ada 2 rumah makan. Kami memilih yang paling dekat saja. Langsung kami timbang apa yang kami beli dan dimasakkan sama pramusajinya. Rasaku, pramusajinya adalah orang-orang setempat. Oh ya, pilihan minumnya cuman teh manis dingin (mandi kalo orang Medan bilang, wkwkwk..), Lemon tea, es kelapa, dan air mineral.

Ini Dia Penampakkan Rumah Makannya.
Durasi memasaknya agak lama sih, kira-kira 15-30 menit. Soalnya sepenglihatanku, di sana cuman ada 2 kompor, sementara ada beberapa keluarga ya datang. Enggak usah takut, kita enggak akan bosan apalagi karena sinyal awut-awutan. Pemandangannya lumayan bagus. "Ada rupanya begini di dekat Medan", pikirku. Aku juga enggak mau diem, beberapa spot bagus untuk diabadikan.

Itu Juga Ada Rumah Makan Apung Lainnya.

Naik Kapal Bareng Abang Yok Dekk..
Oh ya, pada saat kami ke sana, rumah makanya sedang menambah lapak. Jadi makin luas deh. Harus hati-hati. Takut jebol. Hemm, jangan khawatir, di sana ada toiletnya, siapa tahu kebelet kan ya? Hehehe..

Masih Kerangkannya

Bang, Bang Kenapa Bang?

Memang pada saat itu, perut kami sedang lapar-laparnya. Panasnya matahari dan lengketnya suasana di tengah laut buat kami enggak bisa membiarkan makanan itu mendingin begitu saja. Kami langsung menyantapnya. Rasa masakkannya enggak kalah jauh dari masakan yang ada di tengah kota. Cukup bersih juga. Ya buktinya sampai blogpost ini diterbitkan, aku masih sehat walafiat. Sangkin kemaruknya (serakah.red), kami kekenyangan dan beberapa menu bersisa, tapi masih bisa dibungkus kok.

First, Let's Take A Wefie!

Makan Bang?

Tidak ada yang mau kejar, jadi suka hati untuk berlama-lama nongkrong di tengah laut. Hahaha.. Kami lebih memilih ngarol-kidul sambil nunggu matahari agak terbenam. Sadar enggak sadar, semakin sore, air lautnya semakin surut, dan burung pelikan serta bangau juga makin aktif beraktifitas. Duh, gemes!

Belum Terlalu Sore

Mulai Sore dan Surut

Surut Genks!
Oke, masalah Budget? Kemarin kami berempat ke Percut Sei Tuan. Kalau tidak salah, total seafood yang dibeli sekitar Rp 260.000. Biaya masak sekitar Rp 15.000/kg, aku lupa berapa kilo belanjaan kami. Biaya untuk nyebrang memakai kapal kalo enggak salah Rp 20.000/orang. Jadi, kalo ditotal, kira-kira Rp 100.000-150.000/orang. Terjangkau atau tidak, itu kembali ke kita masing-masing. Buatku, kalau memang sedang liburan, biaya segitu terjangkau. Apalagi, ada yang dibungkus dan bisa dimakain untuk besoknya. Maklumlah genks, anak kostan. Hahaha..

Over all, Percut Sei Tuan itu cantik, cukup jadi tempat rekresasi, apalagi di tengah lautnya. Beugh, bisa jadi tempat wisata yang Mantep-Jiwa kalo misalnya lebih diperbaiki dan dipelihara, sehingga mengundang lebih banyak wisatawa. Ah kan, makin sulit untuk meninggalkan Medan?

Hey Gadis, Siapakah Gerangan Kamu?

Comments

Popular posts from this blog

Pertimbangan Sederhana Seorang Awam Mengenai Investasi Untuk Passive Income #FinanceDevelopment

Ala-ala ingin belajar investasi sedari dini, aku pun coba mencari jenis investasi apa yang bisa kugunakan dengan kondisi ku sekarang. Sebenarnya banyak sih investasi yang ditawarkan di jaman modern ini. Dari deposito berjangka, asuransi, emas/logam mulia, tanah, kredit property, dollar , saham, dan lain-lain. Semua punya kelebihan dan kekurangannya. Seperti kata konsulenku, high gain high risk. Sebenarnya, awal untuk investasi tegantung  mindset , tujuan, gaya hidup dan kemampuan kita. pada dasarnya, tujuan aku pengen investasi adalah someday aku ingin memiliki passive income. what's passive income? Passive income adalah pendapatan yang kita peroleh tanpa kita harus melakukan aktivitas. Passive income itu perlu modal, ya modalnya dari active income kita. Active income adalah pendapatan yang kita peroleh dari pekerjaan kita sehari-hari, contohnya Gaji. Source Aku ga bakalan ngejelesin secara detail apa itu investasi emas, tanah, dan sebagainya. Aku ga punya b...

[REVIEW] Tea Tree Oil - Jerawat Kempes

Eaaak!! Siapa deh yang musuhnya jerawat. Puji Tuhan, Alhamdullilah ya, aku bukan daily-rival -nya jerawat. Aku emang bukan turunan dari spesies orangtua yang berjerawat. Jadi saya bukan termasuk orang yang butuh perhatian khusus untuk menampis yang namanya jerawat.  Kehidupanku dan Jerawat Jerawat itu mah pada dasarnya salah satu proses fisiologisnya tubuh kok, salah satu penanda kamu itu udah akil balig. Kenapa? Brarti disitu ada proses adaptasi tubuh dengan adanya perubahan sistem hormonal kamu.  Jadi inget, dulu waktu masih SMP,  jidatku memang lahan subur buat tumbuh jerawat. Selain karena proses akil balig, wajahku emang jenis yang normal-oily , tapi ga berminyak2 kali kok. Justru seharusnya kamu bersyukur kalo punya kulit yang sedikit oily , karena kulit kamu akan tetap kenyal dan tidak mudah kering. Kebayang dong kalo kulit wajah kering, terus wajah sering berekspresi, sadar ga sadar akan cepat timbul kerutan-kerutan, semacam proses p...

Pengakuan 1

Aku mengenal namamu pertama kali waktu aku mendengar dari teman-temanmu. Kalau ga salahku, itu tanggal 13 Februari 2009, sehari sebelum acara valentinenya OSIS. Kamu dibilang pinter buat puisi. Sampai-sampai aku datang ke kelas kamu, menagih puisi itu. Hahaha.. Di situ aku belum punya perasaan sama kamu. Karena aku melihat kamu terlalu gemulai. Taulah maksudku apa. Hehehe.. Ditambah lagi kamu meng-add Facebook ku dengan nama aneh, profile picture pun foto artis. Hemm.. Kamu membalas wall to wall ku pun, semacam begitulah. Masih biasa disitu perasaanku. Oh ya, aku mulai melihat kamu berbeda ya pas sehari sebelum acara valentine OSIS itu. Aku masih inget kali itu gimana kejadiannya. Kalo ga salahku, kamu pegang LKS PPKN. Kamu kena hukum sama guru karena ga ngerjain tugas. Sejak disitu aku memandangmu lain. Bukan benci, bukan suka. Entah apa itu namanya. Aku penasaran sama kamu. Aku curnhat salah satu temanku tentang perasaan itu. Hahaha..! Parahnya kamu keluarga dari g...