Skip to main content

Posts

Fokus ke Pola Hidup Ya!

Aku share ini karena ada yang minta sharing ini. Sebenarnya udah pernah aku share, cuman yaudah sih gapapa. Biar lebih dalem lagi ya.. Apa udah yakin mau nurunin berat badan? Kalo ndak komit ya susah. Aku nyatakan, menurunkan berat badan adalah sulit. Cuman ya, hasil enggak pernah mengkhianati usaha. Sehat dan ideal adalah tujuan utama untuk program ini. Cantik dan mudah cari baju, cuman bonus sih menurutku. Karena kalo emang dasarnya cantik, mau gimanapun pasti cantik. Inilah yang aku lakuin untuk penurunan berat badan: 1. Menghitung Berat Badanku yang Seharusnya Rumusnya adalah (Tinggi Badan (cm) - 100) x 90% = berat badan idealmu. Nah kaya aku, Tinggi badan 157 cm (boncel kaaaaaann?) BB idealku = (157-100) x 90% = 51,3kg. Yaa paling banter 52 kg. Nah, duluu berat badanku itu sekitar 68-69kg. Apa enggak syok kau melihatnya. Kalo secara BMI, aku itu dulu udah masuk Pra-obese. *aku mendadak kejang-kejangg qaqaaaaaaa..!!* Oke, ini enggak benar lagi. Harus ada yang diubah...

Tentang Pilihan

Aku disini bercerita bukan karena bangga dideketin beberapa lelaki. Tapi, tentang memilih pilihan. Sama seperti mau membeli sepatu. Terlalu banyak pilihan yang tersaji di etalase toko sepatu. Di mulai dari pita dibagian ujung sepatu, tinggi hak sepatu, bahan bakunya, warna yang cantik dan apalagi kenyamanan di kaki. Namun, tidak semua bisa kita miliki. Cuman pada akhirnya, kita akan memilih salah satu dari semua pilihan itu, yang menurut penglihatan dan rasa  kepercayaan kita, itulah yang terbaik. Entah nanti akan kotor, sol sepatunya akan lepas atau bahkan bisa-bisa hilang, itu urusan belakangan Tergantung kita yang menjaga dan merawatnya. Dia, yang dulu, pernah bilang, "Kamu kalo lepas dari aku, pasti langsung cepat dapatkan penggantiku..". Sekarang, kami sudah selesai. Episode aku dengan dia, sudah kami lewati. Kini kami berjalan masing-masing dan kurasa kehidupan kami terasa jauh lebih baik, lebih baik untuk sendiri-sendiri. Time will take us to the right moments. Be...

Patokan Jadi Dokter

Kemarin, aku bertemu salah seorang ppds forensik, yang notabene juga salah satu senior alamamater kedokteran umum. Singkat cerita, aku ga sengaja bertemu beliau di instalasi forensik di salah satu rumah sakit di Medan. Beliau sedang menjalani PPDS (Program Profesi Dokter Spesialis). Nah, aku ke tempat yang sama karena mau mengambil data untuk sample skripsiku. Oh ya, ku nyatakan semalam adalah what a tiring day lah! Hahaha... Di sela-sela aku ambil data, seniorku tadi tiba-tiba datang menghampiri dan ngomong "Kau kenapa mau ambil kedokteran?" Aku memberhentikan pekerjaanku dan mulai mendengar pertanyaannya. "Pengen aja bang. Pengen mengabdi." "Menjadi dokter itu, harus punya jiwa dokter.." Aku mengangguk, tanda setuju. Beberapa anak koas disitu juga mendadak memperhatikan beliau. "Bapakku dulu cuman tukang ngangkot, mamaku cuman jualan di pasar. Aku dulu coba masuk FK *** (negeri), tapi ga jebol. Di suruh bapakku, aku masuk hukum,...

Hampir Mendekati Jawaban

Aku sedang dalam perjalanan menuju satu hal yang bisa jadi tumpuan hidupku dan hidup beberapa orang sakit nantinya. Aku semakin mendekati check-point yaitu Gelar S.Ked. Jawaban yang ku maksud adalah, apa aku benar-benar dipanggil untuk menjadi salah satu perpanjangan Tuhan di dunia ini, untuk menyembuhkan orang sakit? Sampai sekarang, belum terbayangkan samaku aku benar-benar berbicara sama pasienku, mengobati mereka dan mereka menjadi sembuh. Ku tekankan, sama sekali belum terbayangkanku. Entahlah, aku pun tidak mengerti -____-" Salah satu jawaban yang paling menakutkan adalah "Maaf, kamu salah jalan. Panggilanmu tidak disini. Kamu gagal. Ulang lah dari awal." Sekian lama, jatuh bangun, suka duka itu berakhir dengan jawaban sia-sia. Oh Tuhan, janganlah sampai. Selelah-lelahnya aku sekarang, panduanku cuman ini: "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya" - Efesus 5:10. Setelah itu, biarlah imanku, mengimaninya. Mengolahnya ...

No Pain No Gain

Malam ini aku rekomendasi lagu ini sambil baca tulisanku: "Nikita - Tangan Tuhan" Setelah beberapa kali menunda, akhirnya aku S c a l i n g gigi. Tau kan S c a l i n g gigi? Pembersihan gigi dari karang gigi dari sisa-sisa makanan yang mengendap di sela-sela gigi, yang tidak terbuang ketika sikat gigi. Itu lhooo, yang bunyinya ngiiiiikkk...ngiiikkk.. kaya lagi melicinkan ubin. Setiap orang pasti pernah denger deh. Dan jujur saja, aku itu paling ogah untuk mendengar suara itu, ngilu dan takut aja bawannya. Dan kenyataannya, aku hari ini telah menyelesaikan kejadian itu. Aku melewati episode perawatan gigiku yang sudah lama aku tunda-tunda. Hari ini aku ragu mau ke dokter gigi, karena tiba-tiba hujan deras dan masih capek banget tadi pergi ke tempat penelitianku. Datangnya hujan seakan-akan kode dari Tuhan,"sudahlah anakku, besok saja kamu scaling giginya". Hahahahaha... Tapi tidak, kawanku yang punya mobil ngajak aku bareng ke praktek dokter gigi. ...

Cerita Singkat

"Entah kenapa, kalo ngelihat kau pasti aku bawaannya mau ketawa", tiba-tiba dia muncul dari belakang dengan membawa ukulelenya. "Ya mungkin karena kau lucu lhoo..", aku menjawab. "Lah maksudnya?", dia memberhentikan permainannya. "Ya, kau kan lucu, rame bawaannya. Makanya aku ketawa terus ngelihat kau..", aku memperjelas. Dia mengambil posisi di sampingku dan menegakkan tulang punggungnya, "Kau itu salah dengar. Bukan kau yang ketawa, tapi aku yang ketawa kalo ngelihat kau lhoooo..." "Ha? Iyanya? Salah dengar aku berarti?", aku pura-pura termangu. "Heeeeeehhh...!", dia mengacak-acak rambutku yang sudah salah potong seminggu lalu. "Weeeiii, rambutku susah diatur lhoo.. Jangan diacak-acak. Lihat? Kan susah kn ngaturnya", aku marah, tapi pura-pura, dalam hati gregetan, sambil memperbaiki rambutku. Rambutku ini susah membedakan mana poni, mana rambut yang lebih panjang. Dia tetap selooow melanjutkan pe...

Mulai

Apa kita mulai mencintai? Apa kita mulai risau tanpa kabar? Apa kita mulai saling menceritakan nama satu sama lain pada sahabat? Apa kita mulai saling meminta pendapat sahabat kita ", Apa dia serius padaku? Apa kami cocok?" Apa kita mulai memberikan jadwal kita satu sama lain?  Apa kita mulai bercanda,"Iya, aku lagi makan sama pacar. Haha, becanda dink..", kemudian salah satu diantara kita merasa cemburu?  Aku tidak mengingkari, dan bahkan tidak boleh mengingkari bahwa Kamu pintar membuatku aku tertawa. Kamu tiba-tiba datang, dan aku rasa ini tidak kebetulan. Jujur aku tidak pernah mendoakanmu, karena aku pun tidak begitu mengenal kamu.  Kamu siapa? Siapa kali kamu sehingga aku menyebut namamu dalam doaku? Kita pernah berada dalam beberapa tahun dan tempat yang sama. Tapi, ya begitu. Selama itu, aku tidak pernah bertemu kamu. Kalaupun bisa seperti sekarang, itu hanya karena rencanaNya tidak tertebak oleh siapapun. Siapa sangka, kamu hadi...