Adalah sulit ketika
kamu berhadapan dengan kasus yang sebenarnya mudah tapi karena ada hambatan di
luar medis, semua serba terbatas. Meskipun sudah ada asuransi kesehatan atau
beberapa kebijakkan kesehatan yang sangat berpihak pada pasien, nyatanya belum
semua ter-cover dengan baik. Banyak alasan,
dari tidak ada waktu mengurus, tidak mau ribet, malas, sampai kalimat “toh kan
saya jarang sakit, dok”. Sungguh, jenis pasien yang terakhir ada pasien yang
mungkin punya cenayang khusus kesehatannya.
Aku pernah mendapati
kasus seorang pria paruh baya, usia sekitar 60-an awal, datang ke puskesmas
dengan keadaan pincang. Dia terbantu dengan entah sebatang kayu atau setengah
bagian bambu, yang panjangnya hampir sama dengan tinggi badannya, untuk menahan
sebagian beban badannya. Logatnya yang terdengar seperti bukan warga asli di
kabupaten ini. Iya, dia adalah seorang perantau dari kabupaten sebelah,
kira-kira 6 jam dari tempat kerjaku. Dia hidup sendiri di sini. Keluargany
berada di kampung. Ditambah lagi dia belum punya anak dan istri. Hal yang
pertama bisa ku simpulkan, jangan sampailah aku tidak punya keluarga baruku
sendiri.
“Bapak, apa
keluhannya?”, sambutku dan perawat saat itu. Tak tega aku melihatnya walaupun
dia datang dengan senyum. Ga tau aku apa maksud senyumnya itu.
Dia menjelaskan apa
keluhannya dalam bahasa daerah di sini, dan aku ga mengerti maksudnya apa.
Untunglah, perawatku punya kemampuan berbahasa Indonesia dan bahasa daerah yang
seimbang. Bapak itu menjelaskan bahwa dia jatuh saat membersihkan parit warga,
sehingga pergelangan kakinya cedera. Sudah seminggu lalu. Awalnya hanya dikusuk
dan diberi minyak tradisional. Cuman lama kelamaan, keadaanya semakin memburuk.
Bengkak, panas, semakin sakit dan sulit untuk dipakai berjalan. Aku yang tidak
mengerti bahasa daerah, langsung memeriksa keadaan kakinya. Memang bengkak dan
sakit jika ditekan.
Setelah dia
menceritakan keluhannya, aku menyimpulkan bahwa keadaannya memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut, seperti foto rongent. Karena kalau hanya diberikan
obat saja, hanya meredekan gejala, bukan menyembuhkan sumber penyakitnya. Aku
berusaha menjelaskan kepadanya dengan bantuan perawat. Sebenarnya, dia
menyetujui. Tapi dilain hal, saat itu dia tidak membawa duit sepeser pun. Uang
terakhirnya dipakai untuk ongkos ojek menuju puskesmas.
“Iya bu, rujuk saja.
Tapi saya tidak bisa ke rumah sakit hari ini. Saya tidak punya ongkos ke sana.
Biarlah saya dikasih obat dulu. Hari Senin nanti saya ke rumah sakit”,
begitulah kira-kira arti pembicaraannya.
Aku terhenyak. Bukannya
makin banyak ongkos kalau dia pulang dulu, kemudian Senin datang lagi? Semacam
dua kali kerja.
“Nanti Senin bapak ke
rumah sakit, darimana dapat uangnya?”, aku coba tanya dia.
“Ada sih nanti yang
kasih-kasih itu dok”, singkatnya sambil tatapan yang sebenarnya bingung mau
dapat uang darimana.
“Emang kerja bapak
apa?”, aku berhenti menulis permintaan surat rujukan untuknya. Pernyataan “yang
kasih-kasih..” semacam bukan jawaban konkret di otakku.
“Saya biasanya tukang
buat kasur, bantal bu..”.
Aku lanjutkan menulis
surat rujukan untuknya. Aku ngerasa sedih. Aku berhadapan dengaan orang yang (maaf) mungkin pendapatannya kadang tidak
mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Ditambah lagi dengan keadaannya seperti ini
semakin membatasi diri untuk produktif.
“Yaudah, saya beri
bapak obat pereda nyeri ya. Tapi Senin bapak harus cek ke rumah sakit hari
Senin nanti. Semakin lama bapak cek, nanti semakin memburuk keadaan kaki bapak”,
aku coba member penjelasan sekali lagi. Dan dia pun mengangguk dan keluar dari
ruanganku.
Aku ngerasa sedih
melihatnya. Aku ngerasa ada yang bisa ku lakukan untuk dia agar hari itu juga
ke rumah sakit. Awalnya, apa aku antar saja dia ke rumah sakit menggunakan
motorku? Sulit sepertinya karena masih ada pasien lain yang ngantri. Mau ku
beri ongkos, tapi saat itu dompetku benar-benar kosong. Karena aku memang dalam
masa diet, jadi untuk menghindari jajan, aku ga bawa duit. Kalaupun perlu
sekali, aku kan bisa ke ATM. Tapi, ATM agak jauh dari tempatku. Tapi aku masih
kepikiran. Ada yang bisa ku lakukan, itu kata hati kecilku.
Seperti tersentak,
kakiku tiba-tiba berdiri dan diarahkan ke poli sebelah. “Pinjam uang temanmu,
nanti pulang kau gantikan”, itu yang terlintas.
“Beb, pinjam uangmu limapuluh ribu..”, ucapku tiba-tiba yang membuat
dirinya aneh.
“Nih. Mau ngapain emangnya?”, bak dayung bersambut, memang ada duit
limapuluh ribu di kantongnya.
“Ada dehhh.. Aku pinjem
dulu ya. Ntar pulang poli ku ganti”, aku bergegas keluar dari polinya dan
segera menemui bapak itu.
Ku mendapatinya sedang
bercerita dengan pasien disebelahnya, yang sama-sama sedang menunggu surat
rujukan.
“Pak, ini ada uang buat
ongkos bapak yaa. Dipakai ya pak untuk ke rumah sakit..”, aku langsung menyelipkan
uang itu ditangannya.
“Makasih ya bu. Semoga
jadi berkat. Ibu panjang umur, murah rejeki”, wajahnya yang khawatir untuk
ongkos ojek, terhapuskan dan diganti dengan senyum sedikit lega.
“Iya, iya pak. Yaudah,
bapak hari ini nanti kalo udah siap surat rujukannya, bisa langsung ke rumah
sakit ya. Jangan tunggu hari Senin lagi”, tekanku lagi. Dia pun mengangguk.
Beberapa saat kemudian
temanku tadi, menghampiri ku di poli. Mungkin dia terlalu penasaran kenapa aku
meminjam uang sebanyak itu saat sedang dinas. Kalaupun mau beli cemilan atau
makan, tak perlu sebanyak itu.
“Tadi buat apa sih
duitnya?”
“Ah kepo. Hahaha. Buat
judi beb. Judi bola”, aku ngeles dan dia mengernyitkan dahi.
“Ga, tadi dokter
sedekah gitu”, samar-samar perawat ngebocorin.
“Sssssstt…. Kaga, aku
tadi ikut judi bola. Ntar aku ganti ya..”, aku coba meyakinkan, tapi tetap
tatapan tak percaya masih tergambar di wajahnya. Perawat tadi cuman senyum
kecil.
Obrolan kami teralihkan
saat teman yang lain datang dan membawa topik pembicaraan yang lain yang cukup
serius. Sampai mereka kembali ke tempat masing-masing karena ada pasien baru
poli mereka.
“Bu, Alhamdullilah,
terimakasih sekali bu. Seharusnya saya membuatkan bantal atau kasur untuk ibu”,
sahutnya dari depan pintu poliku.
“Halah…halah ga usah
pak. Yang penting bapak sekarang langsung ke rumah sakit”.
“Iya bu. Terimakasih
bu. Panjang umur, murah rejeki, enteng jodoh bu..”, seraya bapak itu menghilang
dan pergi.
Aku ga tau seberapa
besar bantuanku berpengaruh dalam proses pengobatannya. Tapi setidaknya dia
lebih cepat terobati dan bisa kembali bekerja.
Comments
Post a Comment