Skip to main content

Ongkos Ojek

Sumbawa. Tempat Aku Bertemu Orang-Orang Hebat di Negeri Ini | Jilid 5


Adalah sulit ketika kamu berhadapan dengan kasus yang sebenarnya mudah tapi karena ada hambatan di luar medis, semua serba terbatas. Meskipun sudah ada asuransi kesehatan atau beberapa kebijakkan kesehatan yang sangat berpihak pada pasien, nyatanya belum semua ter-cover dengan baik. Banyak alasan, dari tidak ada waktu mengurus, tidak mau ribet, malas, sampai kalimat “toh kan saya jarang sakit, dok”. Sungguh, jenis pasien yang terakhir ada pasien yang mungkin punya cenayang khusus kesehatannya.

Aku pernah mendapati kasus seorang pria paruh baya, usia sekitar 60-an awal, datang ke puskesmas dengan keadaan pincang. Dia terbantu dengan entah sebatang kayu atau setengah bagian bambu, yang panjangnya hampir sama dengan tinggi badannya, untuk menahan sebagian beban badannya. Logatnya yang terdengar seperti bukan warga asli di kabupaten ini. Iya, dia adalah seorang perantau dari kabupaten sebelah, kira-kira 6 jam dari tempat kerjaku. Dia hidup sendiri di sini. Keluargany berada di kampung. Ditambah lagi dia belum punya anak dan istri. Hal yang pertama bisa ku simpulkan, jangan sampailah aku tidak punya keluarga baruku sendiri.

“Bapak, apa keluhannya?”, sambutku dan perawat saat itu. Tak tega aku melihatnya walaupun dia datang dengan senyum. Ga tau aku apa maksud senyumnya itu.

Dia menjelaskan apa keluhannya dalam bahasa daerah di sini, dan aku ga mengerti maksudnya apa. Untunglah, perawatku punya kemampuan berbahasa Indonesia dan bahasa daerah yang seimbang. Bapak itu menjelaskan bahwa dia jatuh saat membersihkan parit warga, sehingga pergelangan kakinya cedera. Sudah seminggu lalu. Awalnya hanya dikusuk dan diberi minyak tradisional. Cuman lama kelamaan, keadaanya semakin memburuk. Bengkak, panas, semakin sakit dan sulit untuk dipakai berjalan. Aku yang tidak mengerti bahasa daerah, langsung memeriksa keadaan kakinya. Memang bengkak dan sakit jika ditekan.

Setelah dia menceritakan keluhannya, aku menyimpulkan bahwa keadaannya memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti foto rongent. Karena kalau hanya diberikan obat saja, hanya meredekan gejala, bukan menyembuhkan sumber penyakitnya. Aku berusaha menjelaskan kepadanya dengan bantuan perawat. Sebenarnya, dia menyetujui. Tapi dilain hal, saat itu dia tidak membawa duit sepeser pun. Uang terakhirnya dipakai untuk ongkos ojek menuju puskesmas.

“Iya bu, rujuk saja. Tapi saya tidak bisa ke rumah sakit hari ini. Saya tidak punya ongkos ke sana. Biarlah saya dikasih obat dulu. Hari Senin nanti saya ke rumah sakit”, begitulah kira-kira arti pembicaraannya.

Aku terhenyak. Bukannya makin banyak ongkos kalau dia pulang dulu, kemudian Senin datang lagi? Semacam dua kali kerja.

“Nanti Senin bapak ke rumah sakit, darimana dapat uangnya?”, aku coba tanya dia.

“Ada sih nanti yang kasih-kasih itu dok”, singkatnya sambil tatapan yang sebenarnya bingung mau dapat uang darimana.

“Emang kerja bapak apa?”, aku berhenti menulis permintaan surat rujukan untuknya. Pernyataan “yang kasih-kasih..” semacam bukan jawaban konkret di otakku.

“Saya biasanya tukang buat kasur, bantal bu..”.

Aku lanjutkan menulis surat rujukan untuknya. Aku ngerasa sedih. Aku berhadapan dengaan orang yang (maaf) mungkin pendapatannya kadang tidak mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Ditambah lagi dengan keadaannya seperti ini semakin membatasi diri untuk produktif.

“Yaudah, saya beri bapak obat pereda nyeri ya. Tapi Senin bapak harus cek ke rumah sakit hari Senin nanti. Semakin lama bapak cek, nanti semakin memburuk keadaan kaki bapak”, aku coba member penjelasan sekali lagi. Dan dia pun mengangguk dan keluar dari ruanganku.

Aku ngerasa sedih melihatnya. Aku ngerasa ada yang bisa ku lakukan untuk dia agar hari itu juga ke rumah sakit. Awalnya, apa aku antar saja dia ke rumah sakit menggunakan motorku? Sulit sepertinya karena masih ada pasien lain yang ngantri. Mau ku beri ongkos, tapi saat itu dompetku benar-benar kosong. Karena aku memang dalam masa diet, jadi untuk menghindari jajan, aku ga bawa duit. Kalaupun perlu sekali, aku kan bisa ke ATM. Tapi, ATM agak jauh dari tempatku. Tapi aku masih kepikiran. Ada yang bisa ku lakukan, itu kata hati kecilku.

Seperti tersentak, kakiku tiba-tiba berdiri dan diarahkan ke poli sebelah. “Pinjam uang temanmu, nanti pulang kau gantikan”, itu yang terlintas.

Beb, pinjam uangmu limapuluh ribu..”, ucapku tiba-tiba yang membuat dirinya aneh.

Nih. Mau ngapain emangnya?”, bak dayung bersambut, memang ada duit limapuluh ribu di kantongnya.

“Ada dehhh.. Aku pinjem dulu ya. Ntar pulang poli ku ganti”, aku bergegas keluar dari polinya dan segera menemui bapak itu.

Ku mendapatinya sedang bercerita dengan pasien disebelahnya, yang sama-sama sedang menunggu surat rujukan.

“Pak, ini ada uang buat ongkos bapak yaa. Dipakai ya pak untuk ke rumah sakit..”, aku langsung menyelipkan uang itu ditangannya.

“Makasih ya bu. Semoga jadi berkat. Ibu panjang umur, murah rejeki”, wajahnya yang khawatir untuk ongkos ojek, terhapuskan dan diganti dengan senyum sedikit lega.

“Iya, iya pak. Yaudah, bapak hari ini nanti kalo udah siap surat rujukannya, bisa langsung ke rumah sakit ya. Jangan tunggu hari Senin lagi”, tekanku lagi. Dia pun mengangguk.

Beberapa saat kemudian temanku tadi, menghampiri ku di poli. Mungkin dia terlalu penasaran kenapa aku meminjam uang sebanyak itu saat sedang dinas. Kalaupun mau beli cemilan atau makan, tak perlu sebanyak itu.

“Tadi buat apa sih duitnya?”

“Ah kepo. Hahaha. Buat judi beb. Judi bola”, aku ngeles dan dia mengernyitkan dahi.

“Ga, tadi dokter sedekah gitu”, samar-samar perawat ngebocorin.

“Sssssstt…. Kaga, aku tadi ikut judi bola. Ntar aku ganti ya..”, aku coba meyakinkan, tapi tetap tatapan tak percaya masih tergambar di wajahnya. Perawat tadi cuman senyum kecil.

Obrolan kami teralihkan saat teman yang lain datang dan membawa topik pembicaraan yang lain yang cukup serius. Sampai mereka kembali ke tempat masing-masing karena ada pasien baru poli mereka.

“Bu, Alhamdullilah, terimakasih sekali bu. Seharusnya saya membuatkan bantal atau kasur untuk ibu”, sahutnya dari depan pintu poliku.

“Halah…halah ga usah pak. Yang penting bapak sekarang langsung ke rumah sakit”.

“Iya bu. Terimakasih bu. Panjang umur, murah rejeki, enteng jodoh bu..”, seraya bapak itu menghilang dan pergi.

Aku ga tau seberapa besar bantuanku berpengaruh dalam proses pengobatannya. Tapi setidaknya dia lebih cepat terobati dan bisa kembali bekerja.

Comments

Popular posts from this blog

Pertimbangan Sederhana Seorang Awam Mengenai Investasi Untuk Passive Income #FinanceDevelopment

Ala-ala ingin belajar investasi sedari dini, aku pun coba mencari jenis investasi apa yang bisa kugunakan dengan kondisi ku sekarang. Sebenarnya banyak sih investasi yang ditawarkan di jaman modern ini. Dari deposito berjangka, asuransi, emas/logam mulia, tanah, kredit property, dollar , saham, dan lain-lain. Semua punya kelebihan dan kekurangannya. Seperti kata konsulenku, high gain high risk. Sebenarnya, awal untuk investasi tegantung  mindset , tujuan, gaya hidup dan kemampuan kita. pada dasarnya, tujuan aku pengen investasi adalah someday aku ingin memiliki passive income. what's passive income? Passive income adalah pendapatan yang kita peroleh tanpa kita harus melakukan aktivitas. Passive income itu perlu modal, ya modalnya dari active income kita. Active income adalah pendapatan yang kita peroleh dari pekerjaan kita sehari-hari, contohnya Gaji. Source Aku ga bakalan ngejelesin secara detail apa itu investasi emas, tanah, dan sebagainya. Aku ga punya b...

[REVIEW] Tea Tree Oil - Jerawat Kempes

Eaaak!! Siapa deh yang musuhnya jerawat. Puji Tuhan, Alhamdullilah ya, aku bukan daily-rival -nya jerawat. Aku emang bukan turunan dari spesies orangtua yang berjerawat. Jadi saya bukan termasuk orang yang butuh perhatian khusus untuk menampis yang namanya jerawat.  Kehidupanku dan Jerawat Jerawat itu mah pada dasarnya salah satu proses fisiologisnya tubuh kok, salah satu penanda kamu itu udah akil balig. Kenapa? Brarti disitu ada proses adaptasi tubuh dengan adanya perubahan sistem hormonal kamu.  Jadi inget, dulu waktu masih SMP,  jidatku memang lahan subur buat tumbuh jerawat. Selain karena proses akil balig, wajahku emang jenis yang normal-oily , tapi ga berminyak2 kali kok. Justru seharusnya kamu bersyukur kalo punya kulit yang sedikit oily , karena kulit kamu akan tetap kenyal dan tidak mudah kering. Kebayang dong kalo kulit wajah kering, terus wajah sering berekspresi, sadar ga sadar akan cepat timbul kerutan-kerutan, semacam proses p...

Pengakuan 1

Aku mengenal namamu pertama kali waktu aku mendengar dari teman-temanmu. Kalau ga salahku, itu tanggal 13 Februari 2009, sehari sebelum acara valentinenya OSIS. Kamu dibilang pinter buat puisi. Sampai-sampai aku datang ke kelas kamu, menagih puisi itu. Hahaha.. Di situ aku belum punya perasaan sama kamu. Karena aku melihat kamu terlalu gemulai. Taulah maksudku apa. Hehehe.. Ditambah lagi kamu meng-add Facebook ku dengan nama aneh, profile picture pun foto artis. Hemm.. Kamu membalas wall to wall ku pun, semacam begitulah. Masih biasa disitu perasaanku. Oh ya, aku mulai melihat kamu berbeda ya pas sehari sebelum acara valentine OSIS itu. Aku masih inget kali itu gimana kejadiannya. Kalo ga salahku, kamu pegang LKS PPKN. Kamu kena hukum sama guru karena ga ngerjain tugas. Sejak disitu aku memandangmu lain. Bukan benci, bukan suka. Entah apa itu namanya. Aku penasaran sama kamu. Aku curnhat salah satu temanku tentang perasaan itu. Hahaha..! Parahnya kamu keluarga dari g...