Skip to main content

Sumbawa. Tempat Aku Bertemu Orang-Orang Hebat di Negeri Ini | Jilid 5

Bercengkrama dengan Para Korban Pengungsian Gempa di Sumbawa | Jilid 4

Ketika aku lagi iseng mencari kata kunci "Sumbawa" di Google, aku nyadar bahwa aku tinggal beberapa bulan lagi untuk berada di Sumbawa. Sedih, ya pasti. Pilihan yang ku letakkan diposisi ke empat, nyatanya seharusnya ku letakkan di posisi pertama. Tuhan begitu unik. Tidak diletakkannya aku ditarget yang pertama, tapi Dia meletakkan aku di tempat terbaik, sesuai isi doaku.

Satu hal yang bakalan aku ceritakan pada anak-anakku kelak, bahwa mama mereka pernah merantau agak jauh dari opung mereka. Semakin mematahkan asumsi "anak perempuan satu-satunya biasanya dimanjakan". Ya, mama mereka tidak. Hehehe.. Bukan menyombongkan, tapi kebetulan di keluargaku, perempuan dan laki-laki hanya yang berbeda kelaminnya, bukan beban dan kewajibanmya. Apalagi, aku sebagai anak pertama. Wkwkwk...

Kelak yang bisa ku kenang saat berada di sini adalah aku dizinkan bertemu dengan orang-orang hebat di negeri ini. Tuhan memberikan dari apa yang aku harapkan. 


Tepat di siang ketika paginya muncul gempa pertama yang jadi cikal bakal di daerah Nusa Tenggara Barat, aku dan salah satu teman internshipku, yang kami sama-sama pengagum berat Bapak Presiden Jokowi, mendapat kabar bahwa beliau akan datang ke Pulau Sumbawa karena akan meresmikan salah satu Pondok Pesantren Modern Internasional Dea Malela. Sebenarnya, kami sudah mendapat kabar tersebut sejak kira-kira kurang dari seminggu yang lalu. Yak! Kami pun menyusun rencana.



Siang dari sekitar jam 13.30 WITA, kami sudah bersiap di depan pintu gerbang Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III. Seingatku, suhu siang itu sekitar diatas 35 derajat celcius. Cukup membakar beberapa ratus kalori, walau tanpa olahraga. Barisan anak-anak beberapa kali disusun agar tertata rapi. Rentetan bendera Merah Putih berbahan plastik mengudara lebih tinggi dari badan mereka. Antusias sekali, walau kadang beberapa kali kami sempat tertipu saat paspampres atau polisi-polisi berlarian.






Menunggu hampir 2 jam lebih di bawah terik matahari kala itu membuahkan hasil. Sang pujaan hati negara ini mendarat dengan baik. Keluar dari gerbang bandara sambil membagi-bagikan buku, baju Asian Games, dan cendramata kepresidenan. Rakyat tumpah, termasuk aku dan bahkan aku berpisah dari temanku. Aku merasakan begini rupanya jadi rakyat kecil, yang sulit bertemu pak Jokowi. Aku harus beradu badan dengan warga lain, dengan pengawal-pengawal. dan bahkan dua kali aku jatuh. But well, they did it. mereka melaksanakan tugas mereka dengan sangat baik agar pak Jokowi tetap berada dalam zona aman.




Pak Jokowi dan tatapannya saat memberikanku cendramata ga akan ku lupakan. Dengan alis mata yang sedikit naik dan senyumnya, bisa ku simpulkan dia lelah tapi bahagia dengan antusiasme warga Sumbawa. 


Orang hebat kedua yang kutemui adalah Pak Luhut Panjaitan, menteri koordinator bidang kemaritiman Indonesia. Aku bertemu dengan beliau saat aku datang ke acara Pembukaan Sail Moyo Tambora 2018, salah satu acara tahunan untuk meningkatkan daya tarik pariwisata di Pulau Sumbawa. Awalnya niatku mau datang ke sini karena kabarnya yang membuka acara ini adalah Pak Jokowi juga. Wagelaseeh kalo aku ga memanfaatkan moment ini. Tapi, memang karena ada janji lain, Pak Jokowi diwakilkan oleh Pak Luhut Panjaitan.



Saat aku mau masuk ke gedung Expo, beberapa pengawal mengarahkan kami untuk membuka jalan buat menteri pariwisata. aku ga ngeh kalau Pak Luhut juga ikutan. Aku baru sadar ketika beliau lewat di sampingku. Itu pun padet-padetan dengan pengunjung yang lain. Aku mengikuti beliau sampai beliau mau keluar dari pintu gedung Expo. Aku memberanikan diri untuk wefie dengan beliau. Pokoknnya prinsipku adalah ga ada orang yang kenal aku di Sumbawa ini, kecuali pegawai rumah sakit tempatku bekerja, jemaat Gereja dan beberapa kenalan baruku di sini. Dan sepanjang mata memandang, mereka tidak ada di sekitar itu.

Aku: "Horas tulang!", ku sapalah dan ku salam dia yang lagi nyeruput secangkir kopi dari salah satu outlet di Expo.

Pak Luhut: "Horas!". Terdengar agak bingung mungkin beliau, secara ini bukan Pulau Sumatra, apalagi Tanah Batak.

Aku: "Boleh kita selfie sebentar tulang?"

Pak Luhut: "Boleh boleh. agak cepat ya..."

Aku: "Siap Tulang!"

2 kali kami wefie.

Aku: "Terimakasih tulang"

Pak Luhut: "Iya, sama-sama. Baik-baik ya..", lalu kami bersalaman.



Bahagianya aku waktu itu. Aku memang sudah lama menanti-nanti kapanlah aku bisa bertemu dengan Pak Luhut. Then God gave me out of my mind. eaaak!

Sumbawa telah mempertemukan aku dengan orang-orang besar di negeri ini. Sumbawa akan mempunyai tempat khusus di hatiku dengan segala pengalaman yang ada.

Comments

Popular posts from this blog

Pertimbangan Sederhana Seorang Awam Mengenai Investasi Untuk Passive Income #FinanceDevelopment

Ala-ala ingin belajar investasi sedari dini, aku pun coba mencari jenis investasi apa yang bisa kugunakan dengan kondisi ku sekarang. Sebenarnya banyak sih investasi yang ditawarkan di jaman modern ini. Dari deposito berjangka, asuransi, emas/logam mulia, tanah, kredit property, dollar , saham, dan lain-lain. Semua punya kelebihan dan kekurangannya. Seperti kata konsulenku, high gain high risk. Sebenarnya, awal untuk investasi tegantung  mindset , tujuan, gaya hidup dan kemampuan kita. pada dasarnya, tujuan aku pengen investasi adalah someday aku ingin memiliki passive income. what's passive income? Passive income adalah pendapatan yang kita peroleh tanpa kita harus melakukan aktivitas. Passive income itu perlu modal, ya modalnya dari active income kita. Active income adalah pendapatan yang kita peroleh dari pekerjaan kita sehari-hari, contohnya Gaji. Source Aku ga bakalan ngejelesin secara detail apa itu investasi emas, tanah, dan sebagainya. Aku ga punya b...

[REVIEW] Tea Tree Oil - Jerawat Kempes

Eaaak!! Siapa deh yang musuhnya jerawat. Puji Tuhan, Alhamdullilah ya, aku bukan daily-rival -nya jerawat. Aku emang bukan turunan dari spesies orangtua yang berjerawat. Jadi saya bukan termasuk orang yang butuh perhatian khusus untuk menampis yang namanya jerawat.  Kehidupanku dan Jerawat Jerawat itu mah pada dasarnya salah satu proses fisiologisnya tubuh kok, salah satu penanda kamu itu udah akil balig. Kenapa? Brarti disitu ada proses adaptasi tubuh dengan adanya perubahan sistem hormonal kamu.  Jadi inget, dulu waktu masih SMP,  jidatku memang lahan subur buat tumbuh jerawat. Selain karena proses akil balig, wajahku emang jenis yang normal-oily , tapi ga berminyak2 kali kok. Justru seharusnya kamu bersyukur kalo punya kulit yang sedikit oily , karena kulit kamu akan tetap kenyal dan tidak mudah kering. Kebayang dong kalo kulit wajah kering, terus wajah sering berekspresi, sadar ga sadar akan cepat timbul kerutan-kerutan, semacam proses p...

Pengakuan 1

Aku mengenal namamu pertama kali waktu aku mendengar dari teman-temanmu. Kalau ga salahku, itu tanggal 13 Februari 2009, sehari sebelum acara valentinenya OSIS. Kamu dibilang pinter buat puisi. Sampai-sampai aku datang ke kelas kamu, menagih puisi itu. Hahaha.. Di situ aku belum punya perasaan sama kamu. Karena aku melihat kamu terlalu gemulai. Taulah maksudku apa. Hehehe.. Ditambah lagi kamu meng-add Facebook ku dengan nama aneh, profile picture pun foto artis. Hemm.. Kamu membalas wall to wall ku pun, semacam begitulah. Masih biasa disitu perasaanku. Oh ya, aku mulai melihat kamu berbeda ya pas sehari sebelum acara valentine OSIS itu. Aku masih inget kali itu gimana kejadiannya. Kalo ga salahku, kamu pegang LKS PPKN. Kamu kena hukum sama guru karena ga ngerjain tugas. Sejak disitu aku memandangmu lain. Bukan benci, bukan suka. Entah apa itu namanya. Aku penasaran sama kamu. Aku curnhat salah satu temanku tentang perasaan itu. Hahaha..! Parahnya kamu keluarga dari g...