Ketika aku lagi iseng mencari kata kunci "Sumbawa" di Google, aku nyadar bahwa aku tinggal beberapa bulan lagi untuk berada di Sumbawa. Sedih, ya pasti. Pilihan yang ku letakkan diposisi ke empat, nyatanya seharusnya ku letakkan di posisi pertama. Tuhan begitu unik. Tidak diletakkannya aku ditarget yang pertama, tapi Dia meletakkan aku di tempat terbaik, sesuai isi doaku.
Satu hal yang bakalan aku ceritakan pada
anak-anakku kelak, bahwa mama mereka pernah merantau agak jauh dari opung
mereka. Semakin mematahkan asumsi "anak perempuan satu-satunya biasanya
dimanjakan". Ya, mama mereka tidak. Hehehe.. Bukan menyombongkan, tapi
kebetulan di keluargaku, perempuan dan laki-laki hanya yang berbeda
kelaminnya, bukan beban dan kewajibanmya. Apalagi, aku sebagai anak pertama.
Wkwkwk...
Kelak yang bisa ku kenang saat berada di
sini adalah aku dizinkan bertemu dengan orang-orang hebat di negeri ini. Tuhan
memberikan dari apa yang aku harapkan.

Tepat di siang ketika paginya muncul gempa
pertama yang jadi cikal bakal di daerah Nusa Tenggara Barat, aku dan salah satu
teman internshipku, yang kami sama-sama pengagum berat Bapak Presiden Jokowi,
mendapat kabar bahwa beliau akan datang ke Pulau Sumbawa karena akan meresmikan
salah satu Pondok Pesantren Modern Internasional Dea Malela. Sebenarnya, kami
sudah mendapat kabar tersebut sejak kira-kira kurang dari seminggu yang lalu.
Yak! Kami pun menyusun rencana.
Siang dari sekitar jam 13.30 WITA, kami
sudah bersiap di depan pintu gerbang Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin
III. Seingatku, suhu siang itu sekitar diatas 35 derajat celcius. Cukup membakar
beberapa ratus kalori, walau tanpa olahraga. Barisan anak-anak beberapa kali disusun agar tertata rapi. Rentetan bendera Merah Putih berbahan plastik mengudara lebih tinggi dari badan mereka. Antusias sekali, walau kadang beberapa kali kami sempat tertipu saat paspampres atau polisi-polisi berlarian.

Menunggu hampir 2 jam lebih di bawah terik matahari kala itu membuahkan hasil. Sang pujaan hati negara ini mendarat dengan baik. Keluar dari gerbang bandara sambil membagi-bagikan buku, baju Asian Games, dan cendramata kepresidenan. Rakyat tumpah, termasuk aku dan bahkan aku berpisah dari temanku. Aku merasakan begini rupanya jadi rakyat kecil, yang sulit bertemu pak Jokowi. Aku harus beradu badan dengan warga lain, dengan pengawal-pengawal. dan bahkan dua kali aku jatuh. But well, they did it. mereka melaksanakan tugas mereka dengan sangat baik agar pak Jokowi tetap berada dalam zona aman.
Pak Jokowi dan tatapannya saat memberikanku cendramata ga akan ku lupakan. Dengan alis mata yang sedikit naik dan senyumnya, bisa ku simpulkan dia lelah tapi bahagia dengan antusiasme warga Sumbawa.
Orang hebat kedua yang kutemui adalah Pak Luhut Panjaitan, menteri koordinator bidang kemaritiman Indonesia. Aku bertemu dengan beliau saat aku datang ke acara Pembukaan Sail Moyo Tambora 2018, salah satu acara tahunan untuk meningkatkan daya tarik pariwisata di Pulau Sumbawa. Awalnya niatku mau datang ke sini karena kabarnya yang membuka acara ini adalah Pak Jokowi juga. Wagelaseeh kalo aku ga memanfaatkan moment ini. Tapi, memang karena ada janji lain, Pak Jokowi diwakilkan oleh Pak Luhut Panjaitan.
Saat aku mau masuk ke gedung Expo, beberapa pengawal mengarahkan kami untuk membuka jalan buat menteri pariwisata. aku ga ngeh kalau Pak Luhut juga ikutan. Aku baru sadar ketika beliau lewat di sampingku. Itu pun padet-padetan dengan pengunjung yang lain. Aku mengikuti beliau sampai beliau mau keluar dari pintu gedung Expo. Aku memberanikan diri untuk wefie dengan beliau. Pokoknnya prinsipku adalah ga ada orang yang kenal aku di Sumbawa ini, kecuali pegawai rumah sakit tempatku bekerja, jemaat Gereja dan beberapa kenalan baruku di sini. Dan sepanjang mata memandang, mereka tidak ada di sekitar itu.
Aku: "Horas tulang!", ku sapalah dan ku salam dia yang lagi nyeruput secangkir kopi dari salah satu outlet di Expo.
Pak Luhut: "Horas!". Terdengar agak bingung mungkin beliau, secara ini bukan Pulau Sumatra, apalagi Tanah Batak.
Aku: "Boleh kita selfie sebentar tulang?"
Pak Luhut: "Boleh boleh. agak cepat ya..."
Aku: "Siap Tulang!"
2 kali kami wefie.
Aku: "Terimakasih tulang"
Pak Luhut: "Iya, sama-sama. Baik-baik ya..", lalu kami bersalaman.
Bahagianya aku waktu itu. Aku memang sudah lama menanti-nanti kapanlah aku bisa bertemu dengan Pak Luhut. Then God gave me out of my mind. eaaak!
Sumbawa telah mempertemukan aku dengan orang-orang besar di negeri ini. Sumbawa akan mempunyai tempat khusus di hatiku dengan segala pengalaman yang ada.

Menunggu hampir 2 jam lebih di bawah terik matahari kala itu membuahkan hasil. Sang pujaan hati negara ini mendarat dengan baik. Keluar dari gerbang bandara sambil membagi-bagikan buku, baju Asian Games, dan cendramata kepresidenan. Rakyat tumpah, termasuk aku dan bahkan aku berpisah dari temanku. Aku merasakan begini rupanya jadi rakyat kecil, yang sulit bertemu pak Jokowi. Aku harus beradu badan dengan warga lain, dengan pengawal-pengawal. dan bahkan dua kali aku jatuh. But well, they did it. mereka melaksanakan tugas mereka dengan sangat baik agar pak Jokowi tetap berada dalam zona aman.
Pak Jokowi dan tatapannya saat memberikanku cendramata ga akan ku lupakan. Dengan alis mata yang sedikit naik dan senyumnya, bisa ku simpulkan dia lelah tapi bahagia dengan antusiasme warga Sumbawa.
Orang hebat kedua yang kutemui adalah Pak Luhut Panjaitan, menteri koordinator bidang kemaritiman Indonesia. Aku bertemu dengan beliau saat aku datang ke acara Pembukaan Sail Moyo Tambora 2018, salah satu acara tahunan untuk meningkatkan daya tarik pariwisata di Pulau Sumbawa. Awalnya niatku mau datang ke sini karena kabarnya yang membuka acara ini adalah Pak Jokowi juga. Wagelaseeh kalo aku ga memanfaatkan moment ini. Tapi, memang karena ada janji lain, Pak Jokowi diwakilkan oleh Pak Luhut Panjaitan.
Saat aku mau masuk ke gedung Expo, beberapa pengawal mengarahkan kami untuk membuka jalan buat menteri pariwisata. aku ga ngeh kalau Pak Luhut juga ikutan. Aku baru sadar ketika beliau lewat di sampingku. Itu pun padet-padetan dengan pengunjung yang lain. Aku mengikuti beliau sampai beliau mau keluar dari pintu gedung Expo. Aku memberanikan diri untuk wefie dengan beliau. Pokoknnya prinsipku adalah ga ada orang yang kenal aku di Sumbawa ini, kecuali pegawai rumah sakit tempatku bekerja, jemaat Gereja dan beberapa kenalan baruku di sini. Dan sepanjang mata memandang, mereka tidak ada di sekitar itu.
Aku: "Horas tulang!", ku sapalah dan ku salam dia yang lagi nyeruput secangkir kopi dari salah satu outlet di Expo.
Pak Luhut: "Horas!". Terdengar agak bingung mungkin beliau, secara ini bukan Pulau Sumatra, apalagi Tanah Batak.
Aku: "Boleh kita selfie sebentar tulang?"
Pak Luhut: "Boleh boleh. agak cepat ya..."
Aku: "Siap Tulang!"
2 kali kami wefie.
Aku: "Terimakasih tulang"
Pak Luhut: "Iya, sama-sama. Baik-baik ya..", lalu kami bersalaman.
Bahagianya aku waktu itu. Aku memang sudah lama menanti-nanti kapanlah aku bisa bertemu dengan Pak Luhut. Then God gave me out of my mind. eaaak!
Sumbawa telah mempertemukan aku dengan orang-orang besar di negeri ini. Sumbawa akan mempunyai tempat khusus di hatiku dengan segala pengalaman yang ada.






Comments
Post a Comment